Mahasiswa masih menanti bantuan Pemda Intan Jaya

Jayapura, [WAGADEI] – Mahasiswa mahasiswi Kabupaten Intan Jaya, Papua kembali menyuarakan dana bantuan studi di seluruh Indonesia, termasuk seluruh Papua yang sudah dua tahun mandek. Yeskiel Belau, salah mahasiswa asal Intan Jaya yangberada pada jenjang  Pasca Sarjana di STFT Widya Sasana Malang mengatakan, selama ini pihaknya telah membangun komunikasi secara baik dengan Pemerintah Kabupaten [Pemkab] Intan Jaya pada bulan Agustus 2019 lalu mapun sebelumnya.

Belau mengatakan, namun Pemkab tidak melaksanakan kewajibannya tepat pada waktunya, maka dalam bulan yang sama pula para mahasiswa telah melakukan unjuk rasa di kota Nabire menuntut Pemkab cairkan dana biaya studi. Aksi ini sempat berujung pada pengrusakan rumah Kepala Dinas Kesejahteraan Sosial (Kesra) Titus Agimbau di Nabire, pada 12 Agustus 2019.

“Setelah peristiwa itu, para mahasiswa-mahasiwi sempat bertemu dengan Kepala dinas Hubungan Masyarakat (Humas) Kabupaten Intan Jaya, Yohakim Mujizau dan Sekertaris DPRD Kabupaten Intan Jaya (Sekwan), Nenu Tabuni pada malam 13 Agustus 2019. Kemudian selanjutnya aksi unjuk rasa mahasiswa-mahasiswi menuntut hak biaya studi mereka ini berhenti di sini,” kata Yeskiel Belau kepada wagadei.com, Senin, [9/9/2019].

Ia bahkan mengaitkan dengan peristiwa kekerasan, persekusi dan rasisme yang telah dilakukan masyarakat Jawa Timur terhadap bangsa Papua mulai tanggal 15 Agustus di Kota Malang dan selanjutnya di Kota Surabaya, Semarang dan Makasar. Maka mahasiswa Papua berkeingan pulang kampung.

“Tadi malam saya mendapat informasi mahasiswa asal Kabupaten Intan Jaya yang tinggal di kontrakan di Surabaya bahwa dia bersama beberapa mahasiswa-mahasiswi asal Kabupaten Intan Jaya di Jawa Timur itu terancam tidak kuliah tahun ajaran ini, karena terkendala dengan biaya studi,” katanya.

Ia juga mengatakan, sebagian besar kawan-kawannya sudah pulang ke Papua dan kini tinggal sedikit saja. Mereka yang sudah menyatakan siap untuk pulang ke kampung oleh karena kendala biaya studi sebagai berikut Heron Tipagau, Marius Duwitau, Hosea Tapani, Ance Jegeseni, Melek Bagau, Ida Ugipa, Denias Miagoni, Ester Bagau, Dommy Sani, Nemia Belau, Listha Sondegau, Brigita Sondegau, Nelson Sondegau, Otis Sondegau, Pinelia Belau, Fransina Duwitau, Feby Sondegau, Maria Magdalena Tebay, Imanuel Sondegau, Bruno Selegani dan Nopen Songegau.

“Saya pastikan bahwa jumlah mahasiswa-mahasiswi yang akan pulang ke kampung pasti akan meningkat, karena jumlah mereka hanya hasil catatan sementara dan tentunya belum ditambahkan dengan para mahasiswa-mahasiswi asal Kabupaten Intan Jaya yang bermarkas di Kota Studi lain, seperti Bali, Jawa Tengah, Jawa Barat dan Kota Studi lainnya di Indonesia ini,” bebernya.

Menurut dia, kenyataan seperti itu sangat mengganggu kenyamanan semua pihak, baik pihak Pemkab maupun pihak orang tua dan para mahasiswa-mahasiswi. Maka dalam konteks ini sangat dibutuhkan suatu sikap proteksi generasi bangsa yang bijak dari pihak Pemerintah tanpa bersungut-sungut dengan hati yang penuh kasih dapat mencairkan dana biaya studi bagi semua mahasiswa Intan Jaya di seluruh Indonesia.

Domy Sani, salah satu mahasiswa Intan Jaya di Jawa Timur mengharapkan, agar generasi bangsa ini dapat melanjutkan studinya lagi, karena kami percaya bahwa mereka siap untuk studi, namun hanya kendala dengan biaya. Maka sekali lagi, saya mohon bantulah mereka.

“Entah dari mana sumbernya meski kami tahu bahwa dana Otonomi Khusus cukup besar juga untuk biaya studi generasi bangsa ini,” ujar Sani.

Dalam konteks itu, kata dia, tentu pihaknya di seluruh tanah air masih menunggu pencairan dana bantuan studi dari Pemerintah Kabupaten Intan Jaya. “Kami sudah tunggu selama dua Tahun, kami harus tunggu sampai kapan. Sebagian besar mahasiswa-mahasiwi Intan Jaya sudah pulang ke kampung dan biarkan mereka yang lain ini juga pulang ke kampung? Entahlah,” pungkasnya. [Aweidabii Bazil]

 

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

shares