Quo Vadis Gereja di Papua

  • Bagikan
Satu upaya Mem-Papua-kan Gereja di Papua menjadi Gereja Papua

Oleh: Daniel W. Gobai

 

Apa dan Siapa Gereja itu?

KATA Gereja secara sederhana memiliki dua pengertian. Pertama kata “gereja” dengan huruf (g) kecil di depannya berarti merujuk pada gedung atau bangunan. Sementara “Gereja” dengan huruf kapital (G) berarti merujuk pada manusia. Namun kadangkala kedua istiliha ini tidak begitu dipentingkan. Pada prinsipnya, Gereja sebagai institusi atau lembaga memiliki hirarti [sususan] kepemimpinan yang rapih dan terstruktur. Ada pemimpin dan ada umat [atau yang dipimpin]. Semua memiliki peran dan fungsi masing-masing. Mereka bersekutu dan berkumpul. Tujuannya antara lain untuk mengadakan aneka kegiatan kerohanian. Merayakan kegiatan rohani.

Gereja sebagai institusi maupun sebagai persekutuan komunal umat beriman memiliki dasar yang kuat dari panggilan kita sebagai orang beriman Kristen. Kata Kristen tentu dialamatkan, secara khusus kepada semua orang yang mengakui Kristus sebagai Allah yang diurapi. Dasarnya Kristus historis yang bertindak sebagai Sang Penyelamat dan pernah hidup pada masa pemerintahan Pontius Pilatus Wali Negara Roma di Palestina antara tahun 26-36. Nama Kristen tentu diadopsi dari gelar “Kristus” yang kemudian menjadi nama diri Yesus Kristus. Cara hidup Kristus yang amat dikagumi oleh utama-Nya antara lain karena  keberanian dan kegigihan Yesus melawan ketidakadilan. Yesus berjuang menegakkan kebenaran. Hal inilah yang kemudian mendorong semangat hidup Para Rasul dan para Bapa Gereja awal untuk berjuang tanpa henti hingga mati sebagai martir [Sebutan yang khas dalam Gereja Katolik untuk menghormati jasa orang yang mati demi iman akan Yesus].

Baik Kristus maupun Para Rasul bahkan rela kehilangan nyawa demi menyelamatkan kaum kecil yang ditindas, yang dianiaya, yang dipandang rendah dan yang dianggap bukan manusia [lagi]. Sikap Kristus terhadap kaum yang menderita dan kaum bertindak tidak adil tentu berbeda. Kepada yang menderita dan sengsara ia membela perkara mereka. Kepada yang menindas, Kristus tidak diam melainkan Ia melawan. Utamanya Kristus memiliki keberpihakan yang jelas. Hitam putih sifat-Nya tanpa dikotomi. Juga tanpa kompromi dan tanpa tunduk kepada kuasa mana pun selain tunduk dan patuh kepada kebenaran dan keadilan, kedamaian dan persaudaraan, cinta kasih dan berbela rasa seturut kehendak Allah yang menjadi faktor pendorong misi perutusannya.

Kristus dan Konteks sosial-politik-budaya di zaman-Nya

 Konteks pastoral Kristus di era-Nya jauh berbeda dengan kenyataan di saat sekarang. Kita mengakui bahwa Kristus adalah Allah sekaligus manusia. Ia mahakuasa dan kekal adanya. Dengan demikian, Kristus tanpa melibatkan diri sedikit pun dalam misi kemansusiaan, Ia sebenarnya memiliki akses kepada hidup kekal. Namun itu tidak Ia lakukan. Kristus justru melawan kenyataan dengan menyuarakan kebenaran. Hal inilah yang kemudian menggugah hati khalayak manusia di seantero dunia. Bahwa Ia yang adalah  pemilik kehidupan kekal namun ia telah menjadi pemrakarsa dan menjadi suri teladan bagaimana kita seharusnya memperjuangkan kemaslahatan nilai-nilai kemanusiaan seperti Kristus.

Apa yang dilakukan Kristus bukan untuk sebuah upaya popularitas diri, melainkan Ia ingin mendemontrasikan atau menunjukkan Allah yang berkenan kepada manusia yang mencintai kebenaran dan keadilan ketimbang kesesatan dan ketidakadilan. Yesus telah lama menyerukan bahwa bukan mereka yang berseru kepada-Ku Tuhan..Tuhan yang akan diselamatkan melainkan mereka yang mewartakan kebenaran dan memperjuangkannya. Sabda ini, jelas menjadi batu sandungan bagi Gereja di Papua. Gereja yang gemar membuka cabang di sana sini. Gereja yang makin larut dalam pengejaran harta benda duniawi dengan berkedok agama.

Miris bahwa Gereja semakin nyaman dan sengaja diam, seolah-olah tidak terjadi apa-apa di Papua. Inilah suatu pembiaraan Gereja demi semakin maraknya penggalakkan kasus dehumanisasi. Dengan demikian, Gereja mau ke mana? Inilah yang disebut Gereja berciri segigala berbulu atau beraroma domba? Gereja yang hakikatnya jahat, namun tidak responsif. Gereja yang tidak bertanggungjawab atas kenyataan penindasan dan penderitaan manusia.

Gereja mesti bertanggungjawab kepada Allah maupun kepada manusia. Mengapa Gereja atau umat kristen harus bertanggungjawab? Alasannya karena nama Kristen mencerminkan pribadi Kristus yang diimani. Apa yang harus diwartakan Gereja di Papua adalah kebenaran seperti yang diwartakan Kristus yang menjiwa Gereja. Para pastor atau biarawan dan biarawati. Para frater takut kehilangan simpati umat. Takut kehilangan donatur dan kolega. Takut kehilangan jabatan dan harta. Seharusnya para pemimpin gereja dan umat yang dipimpin harus sepenuhnya menunjukkan sikap dan perilaku yang sungguh selaras dengan ajaran Kristus. Jika hal itu tidak diindahkan atau tidak dilakukan maka, inilah sesungguhnya penistaan terhadap Kristus yang menjadi Roh atau jiwa dari Gereja itu sendiri.

Gereja-Gereja  [di Papua] mesti menjadi Gereja Papua

Gereja di Papua berbeda dengan Gereja Papua. Gereja di Papua bisa berarti Gereja yang ada di Papua, namun belum membumi dan mengakar kuat sesuai konteks. Eksistensi Gereja di Papua bisa beragam dan berbeda-beda denominasinya. Namun Gereja di Papua berarti Gereja yang belum sepenuhnya merasuk hingga ke akar budaya dan persoalan Papua. Belum secara optimal mengindahkan manusia dan konteks sosial, ekonomi, budaya dan politik di Papua. Gereja di Papua tentu berarti juga sebagai gereja yang berfungsi sebagai saudagar. Gereja yang demikian, kerapkali ada sebagai formalitas. Ada karena tuntutan hukum. Atau tuntutan untuk misi kepentingan bukan misi kemanusiaan. Selain itu, Gereja di Papua berarti gereja yang tidak tanggap dan tidak realistis. Tidak menyatu dan lebih tendensif bahkan mengambil jarak dari masalah-masalah kemanusiaan. Gereja yang demikian tidak pantas disebut Gereja Kristiani karena ia tidak betul-betul mewakili Kristus. Jika demikian, tepatkah gereja di Papua menjadi penyelamat dan menjadi pengayom bagi yang menderita dan yang tertindas?

Gereja di Papua harus menjadi Gereja Papua. Ungkapan “Gereja di Papua” harus menjadi “Gereja Papua” bukan berarti Gereja yang terlepas atau berada di luar kesatuan dengan Gereja Katolik universal. Akan tetapi, dengan menyebut istilah Gereja Papua, saya maksudkan sebagai suatu upaya Gereja yang harus sungguh-sungguh terusik dan memiliki keprihatian ketika umat manusia ditindas. Untuk itu, Gereja Papua berarti Gereja yang harus bertindak sebagai pemburu harta karun yakni sebuah upaya menemukan Kristus dan khazanah budaya yang ditindas oleh aneka kepentingan elit. Gereja Papua utamanya dimaksudkan mengangkat nilai-nilai kebenaran, keadilan, kesejahteraan, kemakmuran yang lama ditutup-tutupi oleh negara maupun oleh kaum kapitalis.

Pertanyaannya, sudahkah Gereja di Papua menjadi Gereja Papua? Dalam hal ini Gereja di Papua perlu introspeksi diri. Mengapa? Karena kehadiran Gereja di Papua telah lama, namun Gereja tidak secara sungguh-sungguh mengakomodir kepentingan dan keprihatinan umat manusia di Papua. Penderitaan terus terjadi di Papua. Pemunuhan di Papua meningkat setiap tahun. Kasus Abepura Berdarah [2006], Paniai Berdarah [2014] Deiyai Berdarah 2019 dan juga beberapa kasus pelanggaran HAM lainnya di Papua. Gereja khususnya para pemimpin Para Uskup dan Imam serta biarawan-biarawati seolah-olah buta dan diam sementara umat Allah terus mati bersimbah darah. Gereja tidak ikut serta melawan ketidakadilan. Inilah Gereja Kolonial, bukan Gereja berwajah Papua.  Inilah kenyataan.

Kebutaan Gereja disebabkan oleh adanya misi ganda para pewarta maupun penganutnya. Gereja di Papua berarti sebuah Gereja yang mentalitas misi para misionarisnya bertindak sebagai saudagar yakni hanya memburu harta. Hanya meraup keuntungan dan menisbikan segala macam problematika di Papua. Dengan demikian, Gereja di Papua adalah wujud lain dari kaum kapitalis, dari kaum kolonial. Sekedar meraup keuntungan semaksimal mungkin tanpa mengindahkan kebudayaan, kemanusiaan, ketidakadilan dan beragam persoalan kemanusiaan di Papua.

Motifnya mewartaan injil dan kasih, namun prakteknya Gereja belum membumi. Untuk itu, Gereja harus berwajah Papua. Bukan Gereja di Papua tetapi harus menjadi Gereja Papua, yaitu Gereja yang memiliki keprihatinan dan bela rasa. Gereja yang solider, yaitu Gereja yang konstekstual dan menyatu dengan suka duka Papua. Dengan sikap dasar ini, Gereja memperlihatkan sikap dasar Kristus yang memihak. Bahwa Yesus Kristus bukanlah pribadi penengah atau netralis, tetapi Ia adalah figur yang disposisi hati dan batin-Nya berpihak kepada yang benar. Untuk itu, Yesus historis sungguh merasuk hingga ke sendi-sendi kehidupan sosial, politik, ekonomi, budaya, bahkan adat istiadat di Palestina pada zaman-Nya. 

Sejauh ini, Gereja di Papua belum berhasil menjadi Gereja Papua. Sebenarnya, Gereja sebagai institusi maupun para pemimpinnya merupakan harapan satu-satunya kaum yang menderita di Papua, namun Gereja masih memiliki sikap antipatif terhadap manusia dan kebudayaan dalam lokalitas ke-papua-an. Seyogianya Gereja menggantikan peran penting dan fundamental Kristus, yang harus bertindak bukan saja dalam arti suara kenabian tetapi harus juga berciri berkorban. Harus disadari oleh para pemimpin gereja bahwa, masalah Papua dalam segala aspek tidak akan hilang dengan sendirinya, yakni dengan jalan memperbanyak  pewartaan tentang cinta kasih, ataupun dengan menambah jumlah bangunan rumah ibadat bahkan dengan bertambahnya calon pemimpin agama tertentu.

Akan tetapi dengan frase Gereja Papua dimaksudkan sebagai gereja yang hadir nyata, kini dan di sini [Baca: Di Papua]. Gereja di Papua berarti yang membawa Kristus berdasarkan buah pemikiran teolog barat atau adopsi bangsa lain di luar Papua. Teologi kontekstual menuntut kita untuk terus berakar dan bertolak dari berbagai kenyataan dan keberagaman masyarakat dan persoalan Papua. Untuk itulah Gereja di Papua harus berubah, mentransformasi diri menjadi gereja Papua  tanpa kehilangan kesatuannya dengan gereja universal.

Para Gembala Umat di Papua, Perlu mencontoh hidup beberapa Tokoh Revolusioner  

Beberapa tokoh di bahwa ini merupakan pribadi-pribadi yang amat luar biasa.  Tentu ada banyak teolog pembebebasan yang memiliki perhatian amat luar biasa dalam hal menegakkan kebenaran dan keadilan di zamannya, akan tetapi dalam hal ini saya hanya menyebut beberapa. Mereka adalah pertama, Uskup Oscar Romero yang baru saja dikanonisasi menjadi salah satu Orang Kudus (Santo) yakni St. Oscar Romero oleh Paus Fransiskus di Roma. Selain itu, ada dua uskup yang kiprahnya amat luar biasa dalam mengakhiri penderitaan bangsa yang berkepanjangan. Mereka adalah Uskup Soegija Pranata SJ dan Uskup Philipe Ximenes Belo di Timor-Timur. Keduanya tentu dikenang sebagai pewarta dan saksi iman akan Kristus yang amat luar biasa hebatnya.

Misalnya Uskup Soegija Pranoto, sebagai uskup pribumi pertama indonesia, dia memiliki peran luar biasa dalam menyuarakan kebebasan di Indonesia agar warga pribumi lepas dari penindasan Belanda. Mereka tentu mencontoh teladan hidup Kristus yang mereka imani. Upaya-upaya yang dilalui antara lain berhasil melakukan lobi-lobi internasional demi penciptaan kedamaian dan kesejahteraan di Indonesia yang lama menderita di bawah kekuasaan kolonial Belanda. Sama halnya dengan Uskup Ximenes Bello. Ia [mereka] adalah pahlawan kemanusiaan bagi dunia pada umumnya maupun bangsanya pada khususnya. Pada dasarnya mereka bukan pahlawan nasional melainkan terutama pahlawan kemanusiaan. Mereka adalah wakil Kristus [Gereja] atau pewarta Injil yang sesungguhnya. Mereka tidak memilih diam, ketika umat mereka ditindas, diperkosa, diintimidasi, diteror, disiksa dan dibunuh. Juga mereka tidak tergoda untuk terus menikmati segala hal yang menjadi hak preogatif mereka berkat jabatannya sebagai uskup, melainkan berani keluar dari zona nyaman, tidak kompromi dengan kaum  kaum kapitalis dan kaum penjajah.

Selain itu mereka tidak kongkalikong dengan segala kemewahan harta benda duniawi, bagi mereka kemanusiaan jauh lebih utama dan itulah amanat Injil yang Yesus Wartakan. Inilah tugas dan tanggungjawab yang juga harus dilakukan oleh semua hamba Tuhan di Papua. Bersatu nyatakan sikap menolak segala kejahatan Negara dan menuntut penegakan HAM yang jujur dan adil. Jika jalan yang dipilih para uskup di atas adalah jalan kebenaran, mengapa para uskup dan pastor di papua tidak memilih jalan demikian? Jalan yang dipilih Uskup Ximenes Belo, Soegija Pranata, Uskup Romero sungguh-sungguh adalah jalan yang berbeda. Mereka justru memilih hidup menderita, dicacih, dihina, bahkan rela dipandang tidak waras oleh penguasa.

Semua itu harus terjadi agar hal kemanusian, kedamaian, keamanan, keadilan, penghargaan terhadap hidup sungguh-sungguh menjadi milik semua orang. Sikap yang demikian, jelas menjadi sikap yang amat berkenan kepada Allah. Singkatnya mereka sungguh mewartakan kerajaan Allah, bukan melalui pewartaan meluluh, tetapi dengan sungguh-sungguh mengindakan konteks budaya, politik, ekonomi, sejarah dan penderitaan tempat di mana merekan ada. 

Persoalan Papua sesungguhnya bukan sekedar soal merdeka dan memisahkan diri dari bingkai NKRI, utamanya kemanusiaan. Oleh karena itu, penderitaan baik warga Papua maupun warga Non-Papua yang menderita harus disuarakan nasibnya. Gereja di Papua sejauh, tidak tanggap atas fakta-fakta kesengsaraan dan duka lara, maka sejauh itu pula Gereja di papua seharusnya dipertanyakan responsibilitasnya.

*). Penulis adalah calon Pastor Katolik dan tinggal di Malang, Jawa Timur

banner 120x600
  • Bagikan

Respon (2)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *