Aksi kedua di Deiyai diboncengi berbagai pihak

Jayapura, [WAGADEI] – Aksi damai jilid ke dua Rabu, [28/8/2019] di Waghete, Kabupaten Deiyai yang berakhir ricuh hingga jatuh korban nyawa entah warga sipili maupun aparat TNI mendapatkan catatan tersendiri bagi Dewan Perwakilan Rakyat Daerah [DPRD] setempat.

Wakil Ketua [Waket] II DPRD Deiyai, Petrus Badokapa menjelaskan, aksi jilid I Senin, [26/8/2019] telah berjalan aman, lancar, damai dan terkendali sehingga tidak ada sesuatu yang merugikan banyak pihak.

Aksi kedua, kata Badokapa, ada berkelompok-kelompok datang, yang pertama adalah murni masyarakt Deiyai menolak rasisme bahwa orang asli Papua diciptakan oleh Tuhan Allah serupa dengannya, kelompk kedua adalah mata-mata dari NKRI yang disapang oleh TNI, Polri, BIN, BAIS dan sejenisnya, kelompok ketiga adalah pihak yang kalah dalam Pilkada maupun Pileg.

“Jadi sudah masuk jam 12.00 itu massa [rakyat Deiyai] sudah berada di halaman kantor Bupati, sudah padat. Mereka [massa] datang dari masing-masing titik kumpul. Seperti Tigi Timur dipusatkan di Watiyai, Tigi Barat dipusatkan di Gakokebo, Tigi pusatkan di kantor Bupati, Kapiraya dan Bouwobado pusatkan di Wagaamo juga di Yaba. Mereka datang long march,” ungkap Petrus Badokapa baru-baru ini kepada wagadei.com.

Saat, sejumlah orang sedang orasi di halaman kantor Bupati, salah satu kelompk dengan kekuatan massa yang berat datang membawah anak panah, parang dan alat tajam lainnya langsung keliling kantor bupati dan melakukan pelemparan kantor bupati. “Mereka juga kasih hancur alat pelindung Polisi, Brimob, Tentara. Mereka keliling [waita] dan berhamburan,” ucapnya.

“Padahal saat itu kami sedang pertemuan terbatas di dalam ruangan bupati untuk terima aspirasi massa. Begini bunyi tembakan peluru, katanya massa potong seorang Tentara pakai kampak. Setelah itu polisi kasih lepas gas air mata ke arah massa, lalu massa mulai bubar begini Brimob kasih lepas tembakan peluru akhirnya dua orang mati di tempat. Empat luka berat dan dibawa ke rumah sakit. Jadi enam orang itu ditembak oleh Brimob,” katanya.

Ia mengatakan, adik kandungnya menjadi korban menceritakan, kalau mereka dikejar dan ditembak oleh sesame anak Mee yang berdomisili di Deiyai. “Kami dengar, termasuk saya punya adik kandung dia dapat tembak dan dia bilang ditembak oleh anak-anak Mee sendiri,” ujarnya.

Setelah ketahuan, lanjutnya, warga akan mengusut siapa di balik pemberian pistol untuk membunuh sesama orang Deiyai itu.

Sementara penanggung jawab aksi,Yulian Atoowa Mote menjelaskan, awalnya bermula ketika sebuah mobil Toyota Kijang yang ditumpangi aparat keamanan menambrak seorang pemuda marga Takimai yang ebetulan sedang menuju kantor bupati hendak ikut aksi.

Tidak terima dengan kejadian itu, sontak saja rekan-rekan melakukan memalang mobil itu lalu melihat di dalam ternyata yang jadi sopir adalah orang Mee sendiri dan penumpangnya adalah aparat keamanan sehingga langsung memukul hingga satu orang anggota Tentara tewas.

“Dari situlah terjadi penembakan. Jadi di sini kita bisa bedakan siapa yang pancing duluan,” katanya. [Abeth A. You]

Editor: Aweidabii Bazil

 

banner 120x600

Respon (25)

  1. Memang benar bahwa awal mula ricuhnya aksi damai berubah aksi risih akibat Mobil putih yg ditumpangi olej
    Aparat Keamanan menabrak seorang laki2 marga Takimai. Dan yg menjadi heran adalah Jika masyarakat Sipil yg menggunakan senjata dan mengenai aparat pasti saja cari tau hingga menangkapnya tapi pistol yg digunakan oleh warga sipil justru menembak masyarakat sipil sehingga aparat diam, srhingga Utk menyusut kasus deiyai perlu ada Tim Pencari Fakta.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *