Rakyat Papua di Dogiyai aksi tuntut Papua Merdeka, Wabup dan Ketua DPRD terima aspirasi

Jayapura, [WAGADEI] – Rakyat Papua yang tergabung di dalam Solidaritas Anti Rasisme di Dogiyai telah menggelar demonstrasi di Moanemani, Senin, [26/8/2019]. Aksi tersebut tentunya menanggapi deretan panjang kekerasan rasisme terhadap orang asli Papua [OAP].

Selain itu, tanggapan Negara Indonesia atas peristiwa kekerasan pelecehan rasisme terhadap orang asli Papua melalui Mahasiswa Papua di Surabaya, Malang, Semarang dan Makassar.

Penanggung jawab aksi, Goo Genny mengatakan, peristiwa kekerasan pelecehan rasisme dengan sebutan orang Papua adalah ‘Monyet’ oleh organisasi masyarakat (Ormas), Polri dan TNI di kota Surabaya adalah kekerasan verbal dan non verbal lanjutan.

Ia mengatakan, masih ada deretan kekerasan verbal dan non verbal panjang yang orang Papua terima bersih dari Indonesia sehingga kekerasan itu menjadi makanan sehari-hari bagi masyarakat Papua.

“Ada beberapa kekerasan verbal melalui rasisme yang terjadi pada orang Papua adalah sebagai berikut, tahun 2016, ketika pecahan uang baru diluncurkan oleh Indonesia. Gambar Frans Kaisepo dalam pecahan uang Sepuluh Ribuh Rupiah (Rp. 10.000), gambarnya dimbang-imbangkan dengan Monyet oleh Indonesia pada Papua. Tahun 2017, ketika tim sepak bola Persipura Jayapura lawan Arema Malang. Arema Malang menyebut orang Papua itu ‘Areg Monyet’ dan beberapa kali Persipura berlaga di luar Papua, supporter maupun pemain selalu saja disebut kera, monyet, dan sejenisnya,” tutur Goo Benny kepada wagadei.com melalui keteranganya.

Lanjut dia, tahun 2018, wauwa [kakak] Natalius Pigai [NP], mantan Komisioner Komnas HAM di Jakarta. Dalam group Facebook Jokowi Presidenku ditag atau update status dengan foto Wauwa NP dibandingkan gambar monyet lalu orang menyebut ia adalah ‘Golira atau Monyet’.

“Ketika Mahasiswa Papua di Jawa, naik angkot lalu di dalam angkot yang ditumpangi mahasiswa Papua itu berkebetulan ada orang Melayu sudah selalu mereka menutup hidung kerena mereka menganggap Mahasiswa Papua itu hitam, kotor dan bauh. Ketika mahasiswa Papua melanjutkan studi di luar Papua, tempat tinggal mereka dipersulit dengan alasan mereka tidak memeliki kartu domisili untuk tinggal,” jelasya.

Goo menyebutkan, Kamis, 15 Agustus 2019, penyebutan Monyet terhadap mahasiswa Papua oleh TNI, POLRI dan Ormas Kota Malang hingga beberapa mahasiswa Papua di Malang menjadi korban kekerasan pelecehan rasis dan fisik.

“Jumat, 16 Agustus 2019 sambung lagi dengan pengepungan Asrama Papua di Kota Malang dan Kota Semarang. Minggu, 18 Agustus 2019, Asrama Papua dan Asrama Yahukimo di Kota Makassar dikepung oleh Polisi. Rabu, 21 Agustus 2019. Ketika mahasiswa Papua di Kota Bandung melakukan demo aksi damai untuk protes pelecehan rasisme, pihak polisi datang memberikan Minuman Keras jenis Whiskhy Vodka 2 Karton,” katanya.

Berdasarkan deretan panjang rasisme dengan sebutan Orang Papua ‘Monyet’ itu , sambungnya, apakah benar Orang Papua itu ‘Monyet’. Ia bahkan mengulas eksistensi orang Papua yang sesungguhnya. Negara Indonesia oleh Presiden Joko Widodo tentang kekerasan pelecehan, dikskrimanasi dan persekusi rasisme yang terjadi di Subaraya, Malang, Semarang dan Makassar hanya menyatakan ‘Minta Maaf dan Akan mengundang perwakilan perwakilan dari Papua ke Jakarta’.

“Tetapi sikap Pemerintah Indonesia lebih dari kata permintaan maaf yakni Presiden memerintahkan Menteri Wiranto untuk mengirimkan pasukannya ke tanah air West Papua dan Presiden pun memerintahkan Menteri Kominfo untuk memutuskan JARINGAN Internet dari tanah air West Papua. Sementara Negara Indonesia menyembunyi mati para pelaku kekerasan rasisme di Surabaya, Malang, Semarang dan Makassar,” ujarnya.
.
Ia beranggapan, upaya negara Indonesia membangung fakta dan narasi yang sedang dibangun untuk menyembunyikan dan mengalihkan isu Rasisme pada orang Papua.

Ia nyatakan, Polisi ikut serta mendampingi masa Ormas lakukan aksi depan Asrama (sebagaimana biasa) dan membiarkan mereka meneriak yel yel, Usir Papua;

“Menutupi dan tidak mau memproses hukum kepada TNI, POLRI, Ormas dan Masyarakat yang meneriak kata kata Monyet kepada mahasiswa Papua di Malang. Padahal, secara terang terangan beredar video yang direkam oleh penghuni Asrama Papua di kota Malang dan semua orang menontonnya,” tuturnya.

Kordinator lapangan, Alex Waine mengatakan, rakyat Papua di Dogiyai dengan tegas tolak pelecehan rasisme dengan sebutan monyet, kera dan golira sebab kami adalah ciptaan Tuhan Allah seturut gambar-Nya sendiri.

“Kami rakyat Papua di Dogiyai dengan tegas mendukung penuh pernyataan Wali Kota surabaya untuk memulangkan mahasiswa Papua dari Jawa dan kamipun akan pulangkan masyarakat Jawa dari tanah Papua,” beber Waine..

Pihaknya dengan tegas meminta kepada Majelis Umum PBB untuk menentukan penentuan nasib sendiri diatas negeri West Papua. Sebab kami terus menjadi korban di Indonesia.

Wakil Bupati [Wabup] Dogiyai, Oscar Magai mengatakan, jika ada perintah dari Gubernur Papua, Lukas Enembe kepada semua Bupati, Wakil Bupati dan DPRD maupun DPR Papua untuk buka garuda siapkan laksankan perintah.

“Ya, kalau Gubernur perintahkan kita lepas garuda dan buka baju, kami serentak kembalikan ke Jakarta. Itu saja, tidak ada yang lain,” kata Oscar Makai.

Ia mengatakan, dalam pekan ini dirinya bersama Ketua DPRD setempat dan perwakilan dari solidariitas rakyat Dogiyai akan berangkat ke Jayapura guna mengantarkan aspirasi tersebut. “Aspirasi ini saya akan antar ke pak Gubernur,” katanya. [Abeth A. You]

Editor: Aweidabii Bazil

Share

3 thoughts on “Rakyat Papua di Dogiyai aksi tuntut Papua Merdeka, Wabup dan Ketua DPRD terima aspirasi

  • Agustus 26, 2019 pada 11:05 pm
    Permalink

    pemerintah mana nih…. reaksi hrs cepat tanggap darurat utk mengkampanyekan anti rasis. Kami anti rasis pun tidak mau dihilangkan oleh orang Papua bahwa kami mayoritas warga RI anti rasis dan kami berbangsa satu dgn mrk. Org2 sombong dan berlagak jagoan mengumbar kata2 rasis hrs diperkuat dgn undang2 agar mrk cpt ditangkap dan dipenjara

    Balas
  • Agustus 27, 2019 pada 11:20 am
    Permalink

    Sudah jelas apa yg kami minta rakyat west papua
    Jangan sembunyikan lagi faktanya tolong pemerintah kolonialisme indonesia
    Biarkan kami menentukan Nasip kami sendiri..

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

shares