Lawan rasisme, Persipura jadi senjata bangsa tanpa negara

Oleh: Christopel Paino

PERLAKUAN rasis yang dialami mahasiswa Papua bukanlah hal yang baru. Hampir setiap tahun isu rasisme selalu menimpa mahasiswa Papua yang melanjutkan studinya di luar tanah Papua. Kasus baru-baru ini yang menimpa mahasiswa Papua di Surabaya hingga memantik kerusuhan di Manokwari, Sorong, Fak-Fak, Timika, hingga Jayapura hanyalah sebuah menara gading.

Filep Karma, kini berusia 60 tahun, seorang PNS cum mantan tahanan politik yang berkali-kali dipenjara serta diancam dibunuh, dengan terang benderang menjelaskan bagaimana rasialisme Indonesia terhadap orang-orang Papua diperlakukan seolah “setengah binatang” di seluruh pelosok Papua; mulai dari Jayapura hingga Wamena. Filep menceritakan itu pada sebuah buku berjudul “Seakan Kitorang Setengah Binatang, Rasialisme Indonesia di Tanah Papua (2014)”.

Demonstrasi yang terjadi di Manokwari, Fak-Fak atau Sorong itu berada pada titik nadir kesabaran orang-orang asli Papua [OAP] yang selalu direndahkan martabatnya sebagai manusia. Diskriminasi serupa juga dialami oleh para pemain sepakbola Papua yang bermain pada klub kebanggaan tanah Papua, Persipura Jayapura.

Pemain-pemain Persipura pada Liga Indonesia sebelumnya, kerap kali mendapatkan perlakuan rasialis itu saat bertandang ke klub lawan; ketika pemain Persipura sedang menggiring bola, suporter lawan berteriak dengan nada-nada rasis.

Meski demikian Persipura juga bisa berfungsi balik sebagai sebuah senjata untuk membungkam orang-orang yang memandang rendah martabat orang asli Papua. Melalui klub itu, anak-anak muda Papua meliuk-liuk di atas lapangan hijau, memperagakan taktik mengoper bola yang indah, menggiring bola ke area pertahanan lawan, menendangnya. Dan, gol. Kemenangan itu bukan sebatas mencetak angka. Pun, kemenangan itu adalah simbol perlawanan orang melanesia Papua yang terus mengalami diskriminasi dari orang-orang melayu Indonesia.

Persipura menjelma sebagai senjata bangsa tanpa negara dalam melawan isu rasialisme, penindasan atau ketidakadilan dalam sentralisme kekuasaan di Indonesia. Dan Boaz Solossa, sang kapten Mutiara Hitam [julukan Persipura] serta legenda hidup Persipura,-adalah tokoh yang berperan penting dibalik itu. Anda tentu masih ingat, ketika menyaksikan Boaz Solossa berlaga untuk Timnas Indonesia, mulut sang kapten akan terkunci saat nasional anthem Indonesia Raya dikumandangkan.

Bagi mereka yang isi kepalanya melulu tentang dogmatisme NKRI harga mati, tentu akan mempertanyakan sikap kaka Bochi [panggilan akrab Boaz Salossa] yang dituding tidak memiliki jiwa nasionalisme. Justru pada moment ini, Boaz sedang menarasikan ekspresi yang lain di luar sepakbola; tentang kegetiran yang terjadi pada orang-orang Papua dan tanah leluhurnya. Untuk alasan itulah, sulit rasanya membayangkan jika Boaz Solossa bermain bersama Timnas Indonesia dan memenangkan pertandingan lalu berlari mengitari lapangan sambil membawa bendera Indonesia. Sungguh sangat sulit sekali.

Saya beberapa kali hadir di Stadion Mandala menyaksikan Boaz Solossa, dkk berlaga. Pada suatu sore duduk di tribun Liverpool atau pada sebuah malam berikutnya saya berada di tribun utara, menyaksikan pasukan Mutiara Hitam melumat lawan-lawannya. Mata saya kerap tertuju pada beberapa orang asli Papua yang memberikan dukungan sembari memakai atribut gelang dan kaos dengan gambar bendera Bintang Kejora. Tak jauh dari mereka duduk, polisi dan tentara berdiri menjadi pengaman dalam stadion.

Sepintas, situasi ini mirip jika menyaksikan pertandingan Barcelona di Camp Nou, yang selalu mengibarkan bendera bangsa Catalunya dalam setiap laga, sebagai sebuah ekspresi melawan ketidakadilan penguasa Spanyol di Madrid. Namun berbeda dengan Persipura di Stadion Mandala, sudah pasti penjara adalah tempat bagi para pengibar bendera Bintang Kejora.

Lebih dari Sebuah Klub

Akhir Juli 2017. Saya berada di kampung Ormu, Distrik Raveni Rara, Kabupaten Jayapura. Kampung yang hanya bisa didatangi dengan menggunakan speedboat melewati bibir samudera pasifik selama satu jam tiga puluh menit dari Kota Jayapura. Di saat bersamaan, Persipura sedang bertanding melawan Sriwijaya FC di Stadion Jakabaring, Palembang. Itu merupakan pertandingan terakhir di putaran pertama Liga Indonesia dan menjadi penentu bagi Persipura untuk juara paruh musim atau tidak.

Kampung Ormu jauh dari akses transportasi yang baik. Tak ada signal telpon. Tak ada PLN. Listrik bersumber dari tenaga air. Pun tak ada televisi yang menayangkan siaran sepak bola. Tapi informasi kalah dan menang, atau serinya Persipura bisa didapat dari motorist speedboat. Mereka setiap senin, rabu, dan jumat pergi ke kota.

Di sana mereka beli koran membaca prediksi atau hasil pertandingan. Juga ada warga yang mengunduh cuplikan pertandingan di youtube, lalu balik kampung. Agar tetap merasakan atmosfir lapangan pertandingan meski sudah lewat dua hari, mereka menggelar nonton bareng.

Seperti hari itu. Saya ada keperluan ke Kota Jayapura. Pergi jam 9.00 pagi dan balik ke kampung Ormu jam 4.00 sore. Salah seorang warga menitip pesan agar mengunduh hasil pertandingan Sriwijaya vs Persipura. Singkat cerita, saya balik ke kampung dan sudah ditunggu warga. Handphone saya sudah terisi hasil pertandingan dengan hasil 2-2, dan berdurasi 6 menit 55 detik.

Saya membiarkan mereka menyaksikan sendiri skor akhirnya. Warga di kampung Ormu yang menyaksikan cuplikan pertandingan di layar handphone selebar 5 inch itu sungguh luar biasa. Persis berada dalam stadion. Saat Persipura unggul, mereka bersorak. Lalu ketika Sriwijaya berhasil membuat gol dan menyamakan kedudukan, mereka kecewa. Beruntung handphone saya tidak menjadi pelampiasan kekecewaan. Diakhir nonton bareng tersingkat yang pernah saya saksikan itu, mereka tak lupa mengucapkan syukur kepada Tuhan bahwa Persipura pulang dengan membawa satu poin.

Bahkan suatu ketika, menurut seorang teman asli Papua, dalam sebuah ibadah di gereja saat pendeta sedang berkhotbah, lalu disaat bersamaan Persipura sedang berlaga; maka sang pendeta sesekali akan jeda berkhotbah dan menanyakan kepada salah satu jemaat yang tak jauh dengannya tentang jalannya hasil pertandingan. Pendeta bertanya dengan suara agak dipelankan:

“Berapa skor Persipura?”

“Masih imbang kosong kosong, bapak!” jawab jemaatnya.

“Puji Tuhan. Mari kita berdoa untuk kemenangan Persipura!” ujar pendeta, kali ini dengan suara yang lebih besar.

Bagi mereka, kemenangan Persipura adalah kemenangan harga diri, martabat, dan kesewenang-wenangan terhadap orang Papua. Jackson F. Tiago, pelatih yang pernah membawa Persipura juara dan kini kembali melatih klub, pernah mengatakan: sepakbola seperti sebuah agama kedua di Papua.

Dekade 1970-an, sebuah band rock and roll asal tanah Papua: Black Brother, bahkan menciptakan lagu berjudul “Persipura” untuk memberikan spirit kepada para pemain-pemainnya ketika itu, seperti Timo Kapisa, Johanis Auri, dan kawan-kawannya. Beberapa tahun kemudian, personil band Black Brother memutuskan hengkang ke Belanda dan memilih mendukung perjuangan kemerdekaan Papua dari luar negeri.

Sebagai sebuah tim yang berada di pojok Indonesia, Persipura adalah kekuatan tradisional dan klub tersukses dikancah persepakbolaan Indonesia. Dalam kostum mereka, tertera empat bintang. Sebagai tanda bahwa mereka pernah juara di Liga Indonesia (2005, 2009, 2011, 2013). Bahkan mereka tercatat dalam sejarah sebagai klub pertama dari Indonesia yang menembus ketatnya kompetisi level klub Asia, hingga ke semifinal piala AFC.

Kecintaan masyarakat asli Papua terhadap Persipura melebihi dari sebuah klub sepakbola. Hal ini mirip dengan warga Catalunya yang menyebut klub kebanggaan mereka, Barcelona dengan “Mas Que Un Club”, atau lebih dari sekedar klub: yang bermula dari sebuah perlawanan terhadap kediktatoran Franco di Spanyol.

Sebagai klub sepakbola, Persipura lahir dari politik mahasulit bagi orang Papua. Periodisasi kelahirannya terjadi pada kurun waktu antara peristiwa penting New York Agreement Agustus 1962 dan Act of Free Choice atau Pepera di bulan Juli-Agustus 1969; sebuah masa yang menandai awal mula bergabungnya Papua ke Indonesia.

Saat itu pemerintah Indonesia yang mengusung bendera Trikora, menginvasi Papua untuk membebaskan Irian Barat (nama lama Papua) dari tangan mner-mner Belanda, sebagaimana hasil dari New York Agreement pada tanggal 15 Agustus 1962. Hingga akhirnya Indonesia benar-benar berhasil merebut tanah Papua lewat skenario Pepera di tahun 1969. Sejak integrasi itu, gelombang awal transmigrasi mulai masuk ke Tanah Papua. Orang Jawa, Bugis, Toraja, Batak, hingga Maluku, menetap di Papua.

Di tengah prahara politik itulah, anak-anak muda Papua bermain sepakbola dan menjadikan Persipura sebagai medium “pemberontakan” cum perjuangan sosial politik bagi orang-orang Papua yang terus mengalami diskriminasi.

Beberapa musim terakhir Liga Indonesia,-di tengah kacaunya tata kelola sepakbola oleh PSSI,- Persipura terseok-seok di papan tengah klasemen. Banyak pemain Persipura yang asli Papua mencoba merantau dengan membela klub-klub lain: mulai dari Persija Jakarta, Semen Padang, Barito Putera, Madura United, Persebaya Surabaya, Kalteng Putra, dll. Ketika permainan berjalan tidak sesuai dengan keinginan, ketinggalan gol, atau dalam keadaan tertekan: suporter akan segera akrab dengan kata-kata yang bernada rasis kepada pemain asal Papua yang membela klub mereka.

Kasus rasisme terhadap mahasiswa Papua di Surabaya itu, hanyalah satu dari sekian banyak peristiwa yang menimpa orang-orang Papua, dalam setiap tahunnya. Maka tak heran, Persipura sebagai sebuah senjata dan Boaz seperti sebuah peluru akan berkata:

“Lebih terhormat yang mana; Monyet cari ilmu di rumah manusia atau manusia cari makan di rumah monyet?”**

Artikel ini telah diterbitkan di lipunaratif.com

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

shares