Pemilihan Uskup tidak sama dengan pemilihan kepala daerah

  • Bagikan

Jayapura, [WAGADEI] – Sesuai hukum agama [gereja] Katolik, pemilihan seorang Uskup di sebuah Keuskupan dipatokan pada mekanisme Codex Iuris Canonici, Canon 378, paragraf pertama. Berbagai kriteria yang digunakan untuk menyelidiki calon-calon Uskup, yakni unggul dalam iman, kesalehan, hidup merasul, bijaksana, arif dan lain sebagainya.

Selain itu, Pater Amandus Rahadat, Pr, Pastor Paroki Tiga Raja Timika mengatakan, calon Uskup punya nama baik dalam gereja dan masyarakat, umur calon minimal 35 tahun, umur tahbisan Imam minimal telah mencapai lima tahun, punya gelar akademis doktor atau lisensiat dalam salah satu kuliah Kitab Suci, Teologi, Hukum Kanonik pada Lembaga Pendidikan Lanjut yang diakui Takhta Apostolik atau kalaupun tidak menempuh studi lanjut,  minimal calon mahir dalam mata kuliah tersebut.

“Jadi kita menunggu paling cepat dua atau tiga tahun baru ada kejelasan, belum lagi kendala calon Uskup yang ada di Keuskupan kita Timika, sangat sedikit. Ya dengan kata lain stok terbatas,” kata Pater Amandus Rahadat, Pr,  kepada wagadei.com melalui siara persnya,Selasa, [13/8/2019].

Ia menegaskan, Uskup bukan asil pemilihan dari masyarakat [umat] seperti pemimpin duniawi yakni bupati, gubernur dan  presiden walaupun suara umat [masyarakat] didengar juga.

“Saat ini, Keuskupan Timika sudah punya Administrator Diosesan, yaitu Pater Marthen Kuayo, Pr sehingga semua urusan menyangkut tugas pelayanan dan tugas penggembalaan sudah mulai menjalankan,” ujarnya.

Menurut dia, banyak umat bertanya kapan Keuskupuan Timika punya Uskup definitive, ia menepis dengan jaawab tergantung proses yang akan ditempuh; bisa cepat, bisa lama.

Ia juga menyampaikan Administrator Diosesan akan bekerja sama dengan para Uskup di Wilayah Gerejani Papua untuk menentukan nama-nama Imam yang kiranys bisa diajukan sebagai calon Uskup.

“Nama calon-calon itu diajukan ke Kedutaan Vatikan di Jakarta. Setelah melalui penyelidikan yang mendalam terhadap calon-calon tersebut dilihat rekam jejak calon, seperti masa lalu calon, prestasi rohaninya, dan seterusnya,” ungkapnya.

Maka, kata dia, Duta Vatikan secara rahasia akan membuat penyelidikan terhadap calon-calon tersebut, dengan hasil bisa setuju dan tidak bisa setuju. “Kalau tidak setuju, maka diminta untuk ajukan ulang tiga nama lagi,” ucapnya.

“Begitu seterusnya sampai mantap hasilnya. Kemudian Duta Vatikan akan mengirim tiga nama yang lolos seleksi itu ke Roma, di Vatikan kepada Paus,” katanya.

Selanjutnya, Kementerian Vatikan bagian yang mengurus hal itu akan  mempelajari data dan memberi masukan kepada Paus apakah ya atau tidak.

“Akhirnya Paus menentukan Uskup definitif dan hasil keputusan itu disampaikan kepada Duta Vatikan di Jakarta,” ujarnya.

Dikatakan, Imam yang ditentukan Paus akan dipanggil menghadap Duta Vatikan untuk mendengarkan keputusan Paus dan diminta kesediaan untuk jadi Uskup. [Abeth A. You]

banner 120x600
  • Bagikan

Respon (8)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *