Uskup John Saklil habiskan sebagian besar hidupnya bersama masyarakat kecil di pelosok Papua

Timika, [WAGADEI] – Konferensi Waligereja Indonesia [KWI] nyatakan Uskup Keuskupan Timika, Alm. Mgr. John Philip Saklil, Pr telah mengabiskan seluruh hidupnya di tengah-tengah masyarakat kecil di perkampungan [pelosok] tanah Papua, terutama di wilayah Pegunungan Tengah dan pesisir pantai.

“Sebagian besar hidupnya ditempa dan dibina di tengah-tengah daerah yang dikelilingi oleh gunung yang terjal, lautan yang kadang-kadang dahsyat [kadang-kadang menghantam jiwa orang]. Kalau bapa Uskup John bisa menerima semua keadaan. Dia bisa sabar karena juga mengikuti orangtuanya yang rela menerima ditugaskan di tempat-tempat yang sulit ditelusuri orang. Ia rela ditugaskan dan persembahkan hidupnya di mana saja. Maka sikap untuk berkorban mudah untuk menerima dan mudah untuk menolong [membantu] ini menghantar bapa Uskup John seutuhnya sampai ia memilih cara hidupnya sebagai Imam Katolik,” ungkap Ketua KWI Mgr. Ignatius Suharyo dalam kotbahnya di gereja Katerdal Tiga Raja Timika, Rabu, [7/8/2019].

Ia mengatakan,  Uskup John merasa terpanggil sebagai Imam karena ia telah mengenal Tuhan Yesus di kalangan yang luas hingga Mgr. Herman Munninghoff, OFM [Uskup Jayapura saat itu] mengirim John Saklil belajar di STFT ‘Fajar Timur’, sebagai satu-satunya sekolah untuk persiapan calon-calon Imam Katolik. “Dan di situ Uskup John merasakan cakrawala hidupnya dan penghayatan-penghayatan terhadap imannya semakin semakin diperkaya,” katanya.

“Dan Uskup John ditempatkan jauh lebih luas dari perkotaan. Dia mendapatkan pengalaman-pengalaman dan informasi-informasi mengenai ladang pekabaran Injil di tanah Papua. Karena itulah berjumpa dengan banyak teman-teman yang datang dari Sorong sampai Merauke. Dan informasinya itu cukup menekankan informasi lokal, maka mengenai suku bangsa di tanah Papua diperoleh melalui Uskup John,” ungkap Ignatius.

Menurut dia, mendiang Uskup John akhirnya menjadi sosok perwakilan orang-orang Papua karena ia mengalami banyak hal tentang kehidupan di tanah Papua. Ya, paling tidak ia pernah ditugaskan di lembah Baliem semasa Frater juga kembali ditugaskan sebagai Pater Dekan Jayawijaya.

“Kemudian ditempatkan lagi di Enarotali, di tengah-tengah suku Mee dan Moni sebagai Vikep Keuskupan Jayapura. Inilah sosok bapa Uskup John,” ucapnya.

Kelebihannya, lanjut Ignatius, sosok Uskup John bisa mencairkan sesuatu yang beku [menegankan], seperti pada saat rapat-rapat para Uskup se Indonesia, bisa bikin mob [cerita lucu].” Salah satu tukang mob dari para Uskup adalah Uskup John,” katanya.

“Bisa membuat cair yang beku itu dan bisa menciptakan komunkasi-komunikasi yang lebih segar lagi karena dia bisa mencairkan. Untuk sementara para Uskup yang lain tidak bisa seperti itu. Tapi dia punya talenta untuk itu,” bebernya.

Selain itu, dalam berbagai rapat Gaiyabi selalu memberikan sumbangan-sumbangan pikiran sangat berarti baik tingkat regio maupun tingkat KWI.

‘Maka, kematian ini kami mengalami juga kehilangan isnpirasi-inspirasi yang berguna untuk kita semua,” ungkapnya.

Lanjut dia, rasa kehilangan dan duka cita yang dialami semua pihak, harus menhadapi dengan iman. Sebab menurut ajaran Katolik, iman itu tumbuh dan berkembang dalam hidup yang kemudian disegarkan oleh Tuhan Yesus.

“Apalagi kepada siapa saja yang dilayani oleh bapa Uskup,” ujarnya.

Seperti yang dikatakan dalam Injil, ribuan benih harus hadir hanya dengan kematian, maka benih itu bisa menghasilkan buah yang berlimpah. “Bapa Uskup John tumbuh dan berkembang iman kepercayaannya melalui Tuhan Yesus yang menderita dan sengsara, wafat dan bangkit. Sehingga iman itu tumbuh dan semakin dewasa,” ungkapnya.

“Sedikit yang masih tumbuh secara kualitas ini harus mati juga untuk menghasilakn buah-buah yang lain. Tapi menciptkan kehidupan itu ada dalam diri kita semua yang mengalami kehadiran Uskup John,” ucap dia.

Menurut dia, Tuhan telah memberikan bapa Uskup John kepada kita, tetapi Tuhan juga mengambilnya. Tetapi ingat, Tuhan juga akan memberikan kepada kita tunas-tunas muda di tanah Papua ini. [Abeth A. You] 

3,983 kali dilihat, 20 kali dilihat hari ini

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

shares