Kronologis wafatnya Uskup Timika, Mgr. John Philip Saklil, Pr

Kisah Sabtu yang kelabu

Timika, [WAGADEI] – Wafatnya Uskup Keuskupan Timika, Papua,Mgr. Yohanes Philipus Gaiyabi Saklil, Pr pada Sabtu, [3/8/2019] sangat mengejutkan semua orang. Tidak ada seorangpun yang menyangka bahwa Uskup John tercinta akan meninggalkan kita dengan mendadak, bahkan secepat itu. Maka, tentu menimbulkan berbagai pertanyaan diantaranya bagaimana kronologis peristiwanya dan apa penyebabnya?.

Pastor Domi D. Hodo, Pr, Ketua Unio Timika kepada wagadei.com usai pemakaman Uskup John di kantor Keuskupan Timika, Rabu, [7/8/2019] menceritakan, supaya mengerti dan memahami dengan sungguh-sungguh tentang peristiwa seputar wafatnya mantan Pastor Dekan Dekenat Paniai ini, maka pihaknya telah merangkumkan cerita-cerita dari mereka yang pada saat-saat terakhir mendengar, melihat, menolong dan menangani Uskup Gaiyabi.

“Pada hari Sabtu, [3/8/2019] sebagaimana biasanya Bapa Uskup memulai hari baru dengan perayaan Ekaristi [Misa bersama para Pastor, Suster, Diakon, dan Frater di kapel Uskup. Selanjutnya Bapa Uskup mulai sibuk dengan pekerjaan-pekerjaanya, termasuk jalan-jalan mengunjungi kantor Keuskupan sekitar jam 12.30. Pada beberapa saat sebelumnya, Pater Eko yang berdoa di kapel kantor, keluar dari kapel dan sedang berdiri melihat sopir Uskup dan Diakon Herman sedang mencuci mobil, Bapa Uskup datang dari belakang dan memeluk Pater Eko. Selanjutnya mereka berdua cerita-cerita sekitar 25-30 menit di gerbang dekat mobil yang sedang dicuci. Setelah itu Bapa Uskup bilang: ‘Eko, ini sudah jam makan. Kita pergi makan sudah’. Pater Eko kemudian naik ke kamar lantai dua kantor Keuskupan untuk memanggil Pater Fabi supaya pergi makan siang,” Pastor Domin.

Beberapa saat kemudian, Domin menuturkan, mungkin ketika hendak kembali ke rumah, entahlah apa yang terjadi tidak satu orangpun yang lihat. Sopir Uskup dan Diakon Herman yang sedang rampung mencuci mobil, mulai menyusun karpet-karpet alas mobil di bagian depan mobil. Dan ketika sopir Uskup berputar ke arah depan kanan mobil, ia sangat kaget melihat Uskup tidur terlentang di atas lantai halaman samping kanan kapel. Apakah karena Uskup Saklil jatuh atau duduk dengan pelan sampai tidur telentang?

“Sekali lagi, tentang hal ini tidak ada satu orangpun yang melihatnya. Sopir Uskup yang panik, kemudian memanggil Diakon Herman dan mereka berdua menyaksikan dari dekat, bahwa Bapa Uskup tidak bergerak, matanya terbuka sedikit, nafas begitu lemah, dan tidak bisa bicara. Mereka coba membangunkan Bapa Uskup, tetapi sama sekali tidak ada reaksi. Melihat keadaan demikian, maka mereka berdua berusaha mengangkat Bapa Uskup,” ujarnya.

Pada saat itu, lanjut dia, Pater Eko dan Fabi keluar dari pintu dan melihat sopir Uskup dan Diakon Herman sedang berusaha mengangkat Uskup. Kedua Pastor itu segera membantu sopir Uskup dan Diakon Herman, sehingga berhasil mengangkat Bapa Uskup ke atas mobil. Lalu, Pater Fabi, sopir Uskup dan Diakon Herman duduk memanggku Uskup di bagian belakang mobil, sedangkan Pater Eko menyetir mobil dan dengan segera mengantar Uskup ke  Rumah Sakit Mitra Masyarakat [RSMM].

“Mereka tiba di RSMM sekitar jam 13.30 WP dan selanjutnya para petugas medis membawa Bapa Uskup ke ruang IGD. Pada saat Bapa Uskup sudah mulai ditangani para medis, sopir Uskup kemudian menelpon saya dan saya segera pergi dengan motor ke Rs. RSMM. Sampai di Rs, saya langsung menuju ke kamar IGD dan melihat Bapa Uskup sementara dibantu oleh beberapa Dokter dan Perawat. Mereka secara bergiliran membantu Bapa Uskup dengan menekan dadanya, yang lainnya memasang infus dan menyuntik obat. Sementara saya dan Pater Fabi serta Sr. Theresiani FCH menyaksikan seluruh proses intervensi medis itu sambil berdoa. Saya kemudian diminta untuk menandatangani beberapa surat sehubungan dengan kepentingan administrasi Rs dan intervensi medis selanjutnya,” ungkapnya.

Ia menjelaskan, beberapa saat kemudian para medis dengan sigap memindahkan Uskup John ke kamar ICU. Dirinya bersama Pater Fabi serta Suster bergegas juga mengikuti rombongan para medis. Di kamar ICU para medis kembali melakukan bantuan secara lebih intensif. Kali ini dengan alat pengntrol detak jantung. Cukup lama intervensi, tetapi tidak ada tanda-tanda Uskup sadar kembali. Pastor Domin akhirnya meminta para suster untuk mengambil stola dan kemudian bersama Pater Fabi, pihaknya berdoa secara khusus untuk Bapa Uskup.

“Selanjutnya saya meminta beberapa orang di situ untuk menghubungi Pater Amandus agar bisa memberi Sakramen Minyak Suci. Tetapi karena ada Pater Gunawan yang sudah siap dengan peralatan sakramen, maka beliaulah yang menerimakan sakramen itu. Setelah Pater Gunawan selesai menerimakan sakramen,  saya meminta penjelasan para dokter tentang bagaimana keadaan Bapa Uskup,” katanya.

Menurutnya, para Dokter melakukan pertemuan sedikit kemudian mengumumkan secara resmi bahwa Uskup Timika sudah wafat tepat pukul 14.16 WP. Pengumuman itu disaksikan oleh dirinya, Pater Fabi, Pater Sam, Yoppy Kilangin dan istrinya, serta Merry Saklil dan beberapa anggota keluarga yang lain.

“Sebelum jenazah Bapa Uskup dipindahkan ke kamar jenazah, saya (dalam ketidaktahuan) meminta kepada Dokter untuk membuat catatan medis. Beberapa Dokter yang ada di situ mengatakan akan membuat catatan dan menyerahkan kepada kami. Rupanya catatan yang mereka maksudkan adalah surat keterangan kematian. Sedangkan catatan medis tidak bisa dibuat dengan beberapa alasan,” katanya.

“Alasan-alasan itu disampaikan kepada kami yang isinya seperti ini pertama, bahwa secara medis, dokter tidak memastikan penyebab kematian, karena kondisi Bapa Uskup pada saat tiba di RS sudah dalam keadaan tidak sadarkan diri dan tidak bernapas. Kedua, tetapi jikalau berdasarkan kronologis kejadian sebelum tiba di RS, kemungkinan penyebabnya adalah  silent heart attack yang biasa dialami oleh pasien dengan riwayat sakit gula. Dan ketiga, catatan medis adalah rahasia medis pasien yang tidak boleh diberikan ke pihak lain tanpa seijin keluarga terdekat jika pasien sudah meninggal,” ujar menirukan catatan pihak medis RSMM.

Setelah mencermati, tiga poin di atas, pihak Keuskupan menganalisa bahwa para medis tidak menemukan dan melihat sedikitpun luka di tubuh seperti tangan, kaki dan kepala Bapa Uskup. Maka kiranya Bapa Uskup tidak jatuh terpeleset. Karena seandainya Bapa Uskup jatuh, tentu sopir Uskup dan Diakon Herman bisa mendengar suara atau bunyi ketika jatuh.

“Selama ini Bapa Uskup memang mempunyai masalah dengan gula darah yang tinggi, dan selalu mengkonsumsi obat untuk menurunkan gula darahnya. Meskipun demikian, Bapa Uskup selalu terlihat seakan-akan tidak sedang mengalami penderitaan terhadap sakitnya itu. Tentang hal ini, kita semua tahu bagaimana semangat dan keceriaan Bapa Uskup kita selama ini,” ucapnya.

Selain itu, lanjutnya ada informasi baru setelah wafatnya Bapa Uskup kita, yang disampaikan kepada Pater Andreas Madya, SCJ selaku Sekretaris Jenderal [Sekjen] Keuskupan Timka. Informasi ini datang dari Uskup Bandung, Mgr. Anton Bunyamin, OSC yang juga adalah Sekretaris Jenderal Konferensi Wali Gereja Indonesia (KWI) bahwa pada saat rapat Presidium KWI di Bandung beberapa waktu lalu, ada pemeriksaan kesehatan untuk semua Uskup yang hadir.

“Oleh Dokter, Bapa Uskup Timika dianjurkan untuk berkonsultasi lebih lanjut dan intens dengan Dokter jantung. Namun sebagaimana yang kami tahu, bahwa sampai saat terakhir, Bapa Uskup kita tidak menindaklanjuti anjuran Dokter dalam pemeriksaan di Bandung itu,” jelasnya.

Dikatakan, beberapa waktu lalu, dalam khotbahnya, Uskup John pernah mengatakan; “Jangan kita menggugat urusan dan rencana Tuhan”. Kali ini rencana Tuhan itu datang kepada kita sekalian, sehubungan dengan wafatnya dia yang telah berkhotbah untuk kita.

“Dialah Uskup kita tercinta. Kita telah berdoa dan akan terus berdoa agar rencana Tuhan indah untuk arwah Bapa Uskup dan untuk kita semua yang masih mengembara di dunia ini,” tutupnya. [Abeth A. You]

5,810 kali dilihat, 2 kali dilihat hari ini

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

shares