Uskup Saklil bukan hanya pimpinan Gereja, tapi tokoh kebanggaan masyarakat adat

Jayapura, [WAGADEI] – Menyimak kematian beberapa imam Katolik di tanah Papua sungguh memprihatinkan, karena kematian terjadi secara beruntun. Masyarakat adat dikagetkan dengan meninggalnya Uskup Timika, Mgr. John Philip Gaiyabi Saklil, Pr dalam kondisi tidak sakit sebelumnya. Ia bukan hanya sebagai pemimpin gereja Katolik di Keuskupan Timika, tapi juga sebagai tokoh agama yang diidolakan kebanyakan masyarakat Adat Papua.

Hal itu dikatakan ketua Dewan Adat Wilayah (DAW) Meepago, Marco Oktopianus Pekei. Menurutnya, selama masa karyanya, Saklil menghabiskan kebanyakan waktu di sepanjang pegunungan tengah Papua hingga diangkat menjadi Uskup Keuskupan Timika.

“Selama menjadi Uskup, beliau pun keprihatinan atas persoalan-persoalan masyarakat adat dan menyuarakan atas berbagai persoalan masyarakat adat tersebut. Persoalan terakhir yang disikapi beliau ialah kebijakan pendidikan di Timika yang dinilai sebagai kebijakan yang merugikan sekolah-sekolah swasta yang berdampak pada anak-anak adat yang sedang sekolah di persekolahan swasta. Oleh karena itu, masyarakat adat sungguh merasa kehilangan atas meninggalnya Mungsenyur John Philip Gaiyabi Saklil,” ujar Marco Oktopianus Pekei kepada wagadei.com di Jayapura, Senin,(5/8/2019).

Walaupun masih dalam situasi duka, ia mengatakan, sehari kemudian meninggal pula Imam Katolik lain, bernama Pastor Yulianus Bidau Mote, Pr di rumah sakit St. Karolus Jakarta. Akhirnya kematian menjadi beruntun.

Sebelumnya, beberapa Imam pribumi yang karyanya dikenal masyarakat pun mengalami hal yang sama. Mereka hidup bersama masyarakat adat, satu per satu meninggal dunia mulai dari Pastor Jack Mote, Nato Gobai, Pr, Dr. Neles Tebai, Pr dan Mikhael Tekege, Pr juga Pastor Andreas Trismadi.

“Ironisnya, empat Imam meninggal dunia dalam setengah tahun 2019 ini. Padahal seorang Imam biasanya hidup dalam lingkungan yang sehat dan biasanya umur panjang,” ungkapnya.

Ia bahkan menantang pemerintah terkait akses pelayanan kesehatan yang diisukan telah memadai. ”Jika alasan kesehatan yang buruk, maka pemerintah punya akses kesehatan yang baik dan memadai sehingga semestinya dirawat dengan baik dan tentu sembuh,” ucapnya.

“Namun, kepada para Imam ini ternyata tidak terjadi demikian. Rumah Sakit malah menjadi tempat mereka menghembuskan napas terakhir,” katanya kesal.

Menurut dia, kematian beruntun seperti ini jarang terjadi dan hanya terjadi sekarang di tanah Papua. Memang hidup diatur oleh Tuhan, tapi bila sakit bisa berobat dan tentunya akan sembuh, namun terhadap mereka semua rupanya gagal.

“Kondisi ini sungguh sangat memprihatinkan, karena para Imam yang menyatuh dengan masyarakat adat meninggal dunia satu per satu,” katanya.

Atas kematian para Imam itu, lanjutnya, banyak orang Papua mengatakan bahwa sekarang sudah ada penyakit yang namanya ‘penyakit jatuh’. Apa itu penyakit jatuh? Ini bukan nama penyakit, tapi kondisi awal sebelum meninggal dunia yang hampir sama bahwa para Imam ini meninggal dunia setelah jatuh tergeletak.

“Sama halnya dengan yang dialami Uskup Timika. Beliau sehat seusai kunjungan pastoral di Keuskupan Merauke. Aktivitas seperti biasa, namun siang hari jatuh di depan Kantor Keuskupan dan dilarikan ke Rumah Sakit Mitra Masyarakat Timika, namun tidak tertolong dan meninggal dunia.

Mereka ialah seorang gembala yang hidup jatuh bangun dan bergumul bersama segala persoalan masyarakat adat yang ialah umat mereka. Para Gembala meninggalkan domba-dombanya. Situasi ini sangat memprihatinkan, karena masyarakat adat mulai kehilangan pelayan-pelayan gereja.

“Mereka bukan hanya menjadi tiang gereja, tetapi juga menjadi tiang masyarakat adat. Masyarakat adat mengenal mereka, apalagi Uskup Timika yang beberapa hari berakhir menentang kebijakan pendidikan yang merugikan sekolah-sekolah swasta yang berdampak pada pendidikan anak-anak adat di Tanah Amungsa Mimika. Kematian Uskup Timika nampak meninggal dalam kondisi tak wajar,” ujarnya.

Oleh karena itu, kata dia, kiranya penting berhenti sejenak untuk bergumul dan melakukan musyawarah bersama demi menata gereja itu sendiri.

Hal senada juga dikatakan Pastor Yan Douw, Pr, direktur TOR Wadio Nabire, bahwa kematian yang berawal dari jatuh tiba-tiba lalu meninggal di tempat. Pastor Nato Gobay jatuh tiba-tiba di kamar mandi lalu meninggal seusai pimpin misa dengan semangat 30 menit sebelumnya.

“Pastor Yulianus Bidau Mote jatuh pingsang tiba-tiba di bandar udara Wamena saat berangkat dari Jayapura ke Wamena untuk memberikan seminar tentang politik dan kerawam kepada Cendekiawan Awam Katolik. Lalu, sakit berobat dan meninggal,” kata Douw dilansir jubi.co.id.

Lanjut dia, Pastor Neles Kebadabi Tebay jatuh tiba-tiba di ruang kuliah di STFT “Fajar Timur” lalu sakit, berobat dan meninggal. “Sekarang Mgr. John Philip Saklil jatuh terpeleset dan meningal tiba-tiba,” katanya.

“Pertanyaanya adalah dari suku, budaya dan daerah manakah panah (racun) yang menjatuhkan dan mematikan ini? Tolong dilacak semua untuk direfleksikannya,” ujarnya. [Abeth A. You]

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

781 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

shares