Uskup Saklil pernah bilang, Pemda jangan hilangkan kearifan lokal Papua

Jayapura, [WAGADEI] – “Seharusnya Pemerintah Daerah [Pemda] di Papua tidak menghilangkan kearifan lokal masyarakat yang hidup dari makanan pokok sagu dan umbi-umbian dengan terus mendorong pembukaan puluhan ribu hingga ratusan ribu hektare hutan untuk dijadikan perkebunan kelapa sawit”.

Kutipan di atas adalah ungkapan hati dari Alm. Uskup Timika, Mgr. John Philip Saklil, Pr yang diangkat oleh John NR. Gobai, anggota DPR Papua.

“Masyarakat Papua makan sagu, makan umbi-umbian, makan pisang. Kita bukan makan kelapa sawit,” ujar John NR. Gobai kepada wagadei.com, Senin, [5/8/2019] mengutip perkatan mendiang Uskup John Saklil.

Menurut Gobai, 19 Januari 2017 Uskup John mengatakan, sudah banyak contoh kegagalan program perkebunan sawit seperti di Kalimantan dan Keerom, Papua sehingga membuat warga setempat tidak lagi memiliki lahan untuk ditanami sagu dan umbi-umbian lantaran tanah mereka telah dijual atau dikonversi menjadi perkebunan kelapa sawit.

“Contoh yang paling dekat di Keerom, apakah sekarang masyarakat Keerom sudah kaya raya dengan kelapa sawit? Tidak! Jadi, jangan paksakan masyarakat Papua untuk membangun hidupnya dari tanaman yang bukan kebiasaan adatnya,” ujar Uskup Saklil kala itu.

Penegasan Uskup, kata dia, adalah pemimpin umat katolik yang pusatnya di Vatikan tentu saja mengganggu kapitalis yang telah menanamkan sahamnya di Papua untuk kelapa sawit serta kroninya yang selama ini kecipratan rejeki dari kelapa sawit merasa terganggu.

“Hal yang ikut mengganggu kapitalis dalam bidang sawit adalah adanya sikab uni eropa yang menolak  produk sawit,” kata Gobai.

Barang kali di indonesia yang lain sawit mensejahterakan rakyat sehingga  ada salah seorang mentri indonesia bertemu Bapa Paus Fransiskus di Vatikan. Namun untuk Papua tentu bertentangan dengan Sikab Uskup Timika yang menolak sawit, tentu menjadi pertanyaan sebagian umat katolik yang paham dampak negatif sawit tentu bertanya mengapa termasuk Vatikan yang dilobi oleh Sang Mentri.

Gobai mengungkapkan, Uskup Romero pernah ditembak ketika membela kaum tertindas. Apakah Uskup John Saklil, Pastor Natho Gobai dan Pastor Neles Tebai pun ditembak dengan cara yang tidak kelihatan karena membela kaum tertindas melawan sistem yang menindas dan meminggirkan rakyat.

“Kami manusia hanya dapat menduga-duga, namun hanya Tuhan yang maha mengetahui. Pengadilan akhirat akan menanti kalian yang merancang kejahatan demi uang dan sawit. Ingat uang dan sawit tidak akan membeli pintu surga dan menghapus kejahatanmu di pengadilan terakhir yang kita yakini ada,” katanya. [Aweidabii Bazil]

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

shares