Bupati Nabire didesak segera terbitkan Perbup larangan jual lem aibon

Jayapura, [WAGADEI] – Kondisi terkini di Kabupaten Nabire, anak-anak di bawah umur sudah kecanduan terhadap lem aibon. Mereka sedang ada di bawah pepohonan, pinggir laut, emperan-emperan toko dan kios-kios. Dikwatirkan puluhan tahun mendatang Nabire dan kawasannya akan krisis generasi pembaharu pembangunan di berbagai bidang.

Melihat kondisi itu, warga Nabire yang tergabung dalam Forum Peduli Generasi Emas Papua [FPGEP] dan Komunitas Enaimo Nabire [Kena] melakukan kampanye penyelamatan generasi emas Papua yang sudah kecanduan lem aibon dan sejenisnya.

Ketua KENA, Philemon Keiya mengatakan, pihaknya mendatangi kantor Bupati setempat guna menemui pimpinan daerah untuk menyampaikan aspirasi dalam rangka Hari Anak Nasional pada Rabu, 23 Juli 2019.

“Sangat tidak berlebihan kalau, hari ini kita kita sebut Nabire darurat lem aibon. Anak aibon, ucapan ini selalu disematkan kepada anak-anak yang sudah terlanjur menjadi pecandu terhadap lem aibon. Dan, hari ini Nabire sudah darurat lem aibon. Adanya, lem aibon sejak beberapa tahun belakangan sudah sangat meresahkan bagi  warga. Banyak anak-anak sudah putus sekolah dan masa depan terancam,” ujar Philemon Keiya melalui pernyataannya yang dikirim ke wagadei.com.

Lem sejenis aibon, ia membeberkan sering dikonsumsi anak-anak ini diantaranya lem castol, spritus, dextron, bodrex, hingga bensin. Anak-anak yang sudah kecanduan terhadap lem aibon selalu punya cara untuk bisa menghasilkan kenikmatan yang memabukan dengan berbagai cara dari berbagai jenis bahan yang diracik.

“Ya, Nabire hari ini sudah darurat lem aibon. Ratusan hingga ribuan anak-anak asli Papua sudah mati sia-sia. Lem aibon merenggut generasi emas muda Papua habis. Lem aibon buat tak berdaya terhadap anak-anak muda sehingga masa depan mereka tidak bisa dinikmati,” ungkapnya.

Ia menjelaskan, matinya ribuan generasi masa depan ini diakibatkan penjualan lem aibon yang berlebihan kepada anak-anak generasi emas Papua di Nabire secara sangat bebas. “Konidis yang sama juga sudah merambat beberapa kabupaten lainnya, seperti Dogiyai, Deiyai, Paniai, dan Intan Jaya,” ucap Keiya.

Menurut Keiya, guna selamatkan generasi emas Papua tentu menjadi perhatian dan tanggung jawab semua stakeholder yang ada di Nabire. Ia menilai sejauh ini semua pihak justru diam membisu.

Sehingga, pada momen itu, kata ketua FPGEP, Amos Yaninar bahwa pihaknya telah mendesak kepada Bupati Nabire agar segera terbitkan Peraturan Bupati [Perbub]  tentang pelarangan atau pembatasan penjualan lem aibon dan sejenisnya kepada anak-anak di bawah umur.

“Dan ini harus secara tertulis sampaikan kepada semua pemilik kios dan toko di seluruh wilayah kabupaten Nabire,” imbuhnya.

Lanjutnya, mereka juga telah mendesak kepada Bupati agar segera mengeluarkan perintah kepada aparat Kepolisian dan Satuan Polisi Pamong Praja [Satpol PP] agar selalu menjalankan pengawasan 24 jam terhadap penjualan lem Aibon dan sejenisnya kepada anak-anak dari pemilik kios dan toko seluruh wilayah Nabire.

Pihaknya juga meminta Bupati Kabupaten Nabire segera aktifkan Siskamling pada pada malam hari setiap RT demi menjaga dan mengawasi penjualan lem aibon dan sejenisnya dari tiap kios dan tokoh.

“Bupati Kabupaten Nabire segera bangun panti rehabilitasi bagi generasi muda yang sudah terlanjur kecanduan dari lem aibon dan sejenisnya,” kata Amos.

Wakil Bupati Nabire, Amirullah Hasyim ketika menerima para aksi, berjanji bahwa aspirasi yang di sampaikan sekelompok anak muda itu akan dilanjutkan kepada Bupati sebagai pimpinan daerah.

“Apa yang telah disampaikan ini, akan saya lanjutkan kepada Bupati untuk nantinya dibahas bersama lintas OPD terkait dalam waktu dekat, “ujarnya dilansir jubi.co.id. [Aweidabii Bazil]

Editor: Abeth A. You

 

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

shares