Imam Katolik sebut upaya penarikan guru ASN dari sekolah swasta adalah dosa terberat!

Jayapura, [WAGADEI] – Sejak Indonesia merdeka, tujuan utama pendidikan nasional merupakan mencerdaskan bangsa menuju generasi  emas 2045. Beragam bentuk telah dirumuskan oleh pemangku pendidikan; mulai dari kurikulum, metodik ajar bahkan sampai pada eksploitasi kegiatan ektrakurikuler sebagai bentuk pengayaan pembentukan mental perilaku peserta didik.

Dari rentang waktu yang panjang seluruh penyelenggara sekolah swasta baik lembaga keagamaan ataupun pribadi telah mengambil peran strategis dan menghasilkan sejarah melahirkan generasi ke generasi yang sudah dan sedang memimpin negeri.

Lebih dari itu, berbagai profesi profesional ditempati oleh para lulusan sekolah swasta hingga kini.

Paling lebih dekat lagi, tentang peran sekolah swasta di pedesaan maupun perkotaan telah menyentuh akar dan hak rakyat untuk dapat mengenyam pendidikan dengan layanan yang merata.

Sekolah swasta telah mengurai mata rantai kebutuhan  pendidikan, hadir dan menjawab di tengah pemerintah belum menembus desa,  buta aksara, lahirkan anak kampung  temukan jalan sampai mampu menghidupi keluarganya.

Strategisnya peran sekolah swasta akan memberi imbas positif yang harus didorong pada pacu peningkatan kualitas pengajar yang melahirkan generasi yang siap dengan kompetensi daya saing setara dengan kebutuhan jaman.

Walaupun hasil pencapaian dari sekolah swasta telah terbukti, namun Pemerintah Kabupaten [Pemkab] Mimika, Papua mewacanakan akan menarikan guru-guru pegawai Aparatur Sipil Negara [ASN] dari sekolah swasta di Kabupaten Mimika. Hal itu sebagaimana yang disampaikan Kepala Dinas Pendidikan Mimika, Jeni O. Usmany mewakili Pemkab setempat di media lokal.

Menanggapi hal itu, Pastor Domin D. Hodo, Pr, ketua Unio Gereja Katolik Keuskupan Timika menegaskan, pemerintah tiba-tiba menjadi buta dan bisu, sehingga keinginan pemerintah itu justru mengerikan bahkan masuk dalam kategori dosa terberat.

Menurut dia, ada tiga jenis dosa berat diantaranya pembunuhan, pembantaian dan pembiaran. Namun yang paling kejam adalah pembiaran.

“Jenis pembiaran ini masuk dalam struktur dosa terberat, karena merupakan pembunuhan generasi. Lebih ringan dosa membantai 100 anak sekolah langsung mati di tempat, daripada membiarkan 100 anak yang tidak punya pendidikan dan masa depan,” tegas Pastor Domin D. Hodo, Pr kepada wagadei.com, Kamis, [18/7/2018].

Ia mengatakan, upaya penarikan para guru dari sekolah-sekolah swasta adalah jenis pembiaran terhadap anak-anak usia sekolah pada sekolah yayasan. “Ini sungguh kejahatan kemanusiaan yang paling kejam. Prihatin dobel-dobel,” ucapnya.

Vincent Ohoitimur, Koordinator YPPK Regio Papua mengatakan, alasan Dinas Pendidikan Kabupaten karena guru pegawai ASN digaji pemerintah sehingga mereka harus mengajar di sekolah negeri.

“Pertanyaannya anak-anak di sekolah swasta itu anak NKRI atau anak mana? Dia tidak tahu bahwa kita yang swastapun membayar pajak untuk antara lain menggaji guru PNS?,” katanya bertanya dengan nada kesal.

Ia bahkan menuding, Kadisdik bersama Plt Sekda Mimika belum mengetahui kalau sekolah YPK, YPPK dan YPPGI ada karena panggilan gereja yang didorong dan didukung penuh oleh pemerintah Belanda dengan peraturan LOSO dan MOSO.

“Maka ketika pemerintah Belanda meninggalkan Papua dan Papua menjadi bagian NKRI. Sehingga tanggungjawab pendidikan swasta di Papua (YPK, YPPK dan YPPGI) harus menjadi bagian dari tanggungjawab pemerintah untuk memberikan subsidi atau bantuan dalam bentuk tenaga, dana, sarana prasarana dan jasa yang kemudian disusul dengan Advent dan Yapis,” jelasnya.

Oleh karena itu, lanjutnya, dalam seluruh pembahasan UU 21 tahun 2001 telah disepakati secara bulat untuk sekolah yayasan harus didukung dan harus dicantumkan namanya di dalam UU Otsus Papua.

“Kadin Pendidikan dan Sekda Mimika tidak sadar bahwa merekalah yang mewakili negara sebagai orang tua yang berkewajiban mendidik dan mencerdaskan anak-anaknya di Mimika, malah justru berusaha untuk mematikan hidup dan masa depan mereka. Kita sepakat untuk memperkuat barisan melawan mereka sampai  mereka jerah dan bertobat,” pungkasnya. [Abeth A.You]

Share

One thought on “Imam Katolik sebut upaya penarikan guru ASN dari sekolah swasta adalah dosa terberat!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

shares