Mahasiswa Jaman Now; Kurang Membaca Buku dan Terkikis Arus Sosial Media

Oleh: Abeth A. You

RASANYA sedih sekali ketika melihat arus penggunaan sosial media (Sosmed) diantaranya facebook (FB), whatsapp (WA), instagram (IG), black berry messenger (BBM), telegram, we chat, twitter, messenger, youtube dan sejenis lainnya yang sedang berkembang pesat saat ini, mahasiswa Jaman Now yang notabene sebagai agen perubahan untuk masyarakat, negeri  dan melaksanakan Tri Dharma Perguruan Tinggi berubah 180 derajat menjadi event organizer atau penongkrong setia pada handphone androidnya di mall dan cafe-cafe ternama.

Bahkan, pengaruh fenomena sosmed sulit rasanya saat ini mereka jarang menemukan organisasi mahasiswa yang memiliki orientasi sosial yang berdampak besar terhadap masyarakat kini dan kelak.

Mahasiswa di era milenial telah merubah cara berinteraksi dengan seseorang hanya melalui sosmed. Sehingga tak sedikit mahasiswa cenderung tidak sopan dalam berkomunikasi saat berinteraksi. Menurut mereka, jika sudah berinteraksi langsung melalui jaringan sosial media telah mempermudah seseorang untuk berkomunikasi langsung.

Menjadi mahasiswa Jaman Now, kondisi yang semakin modern dan canggih ini idealnya para mahasiswa itu semakin rajin dan banyak membaca. Bukan saja membaca bahan dari mata kuliah yang sedang diikuti, tetapi juga membaca segala informasi yang sedang berserakan di dunia nyata (dunya) dan di dunia maya (dumay).

Namun dalam realiltas yang ada, berdasarkan hasil survey langsung di ruang kuliah pada beberapa kampus di Kota Jayapura, Papua, dari sembilan ruang belajar para mahasiswa yang pernah penulis tanyakan, kurang dari 10 persen di antara sekitar 300 mahasiswa yang ada membaca buku, surat kabar atau majalah. Selebihnya tidak membaca.  Jadi sangat memprihatinkan apabila kondisi ini dibiarkan tanpa kontrol dari berbagai pihak, terutama orangtua, gereja dan pihak kampus.

Baca: https://wagadei.com/2019/06/26/kebiasaan-mahasiswa-zaman-now-bersuara-di-dunia-maya-tapi-bungkam-di-dunia-nyata/

Pertanyaannya, kalau mahasiswa jarang atau tidak membaca buku, apa makna kuliah yang sedang mereka ikuti? Bila mereka sebagai mahasiswa tidak membaca apa yang akan mereka peroleh dari proses kuliah yang diikuti?  Bila mahasiswa sangat kurang membaca, maka pertanyaan lanjutan penulis adalah bagaimana mereka bisa memperoleh nilai atau IPK tinggi?

Bukankah kalau mahasiswa kurang membaca, akan  meperlihatkan secara nyata kualitas mereka. Misalnya mendapat nilai C atau bahkan di bawah nilai C. Tidak dapat dipungkiri bahwa ketika mahasiswa malas atau tidak membaca, hasil tulisan mereka pada lembaran jawaban juga akan sangat singkat dan tidak teratur. Lalu, kalau  hasil penilaiannya rendah, karena memang kurang membaca, apakah layak mendapat nilai A?

Selayaknya, kebiasaan menepon dosen, SMS atau pesan lewat Whatsapp minta diubah nilai itu dihentikan. Ini jelas tidak elok dan tidak memiliki prestise yang membanggakan kita.  Mahasiswa tidak boleh kehilangan oriebtasi kuliah tersebut. Oleh sebab itu, perlu ada upaya untuk meningkatkan daya baca para mahasiswa, sehingga akan mampu memberikan respon terhadap pertanyaan yang diajukan.

***

Sudah saatnya mahasiswa terutama orang asli Papua di tanah Papua memiliki karya-karya yang dapat dibanggakan oleh bangsa ini. Karya tersebut tidak harus tentang sosial dan kemasyarakatan, setidaknya karya yang dapat bermanfaat untuk orang lain. Sudah saatnya mahasiswa bisa dibanggakan melalui akal dan perilakunya, bukan nongkrong di diskotik hingga larut malam.

Namun perlu menyadari bahwa semua hal di atas bisa diatasi dengan mengubah perilaku mahasiswa dan memaksa mahasiswa itu sendiri untuk membuka lebar wawasannya terhadap apa yang sedang terjadi saat ini. Pengawasan dari pihak kampus tentang organisasi kemahasiswaan harus diperketat dan mempertegas kembali apa itu Tri Dharma Perguruan Tinggi. Semoga!

Mahasiswa Jaman Now, haruslah menjadi mahasiswa yang banyak membaca buku agar luas pengetahuanmu, terampil dan lebih beradab. Karena makin terbukti, mahasiswa Jaman Now sudah tidak sadar dengan lajunya sosial media yang sangat komplek.

Melihat ke belakang

Ya, padahal mahasiswa merupakan generasi penting bagi bangsa ini. Mahasiswa dalam bingkai perjuangan, tak terlepas dari sejarah perjuangan generasi muda demi kemerdekaan. Mahasiswa menyuarakan keresahan publik saat itu dengan aksi anarkistis dengan orasi-orasi yang mengharuskan presiden Soeharto segera mundur dari kursi nomor satu kepresidenan.

Dengan demikian mahasiswa dipandang bukan sekadar siswa yang sedang belajar, namun mereka juga adalah penyambung lidah masyarakat. Mereka dengan semangat tinggi rensponsif terhadap isu-isu yang meresahkan masyarakat.

Namun, itu merupakan potret mahasiswa sebelum era milenial; sebelum komunikasi publik terbuka lebar.

Mahasiswa harus beradab

Berinteraksi di sosmed justru membuat semakin tidak terlatihnya seseorang untuk berkomunikasi secara langsung dengan sesamanya. Ini pula yang dapat memperburuk suatu komunikasi. Interaksi di sosmed merupakan dumay. Maka, mereka tidak terlatih secara nyata untuk berinteraksi langsung, hal ini akan semakin memperburuk seseorang dalam hal berkomunikasi baik dengan atasan, orang yang lebih muda atau bahkan pasangan di dunya.

Pada era sekarang sosmed sudah menjadi wadah bagi semua orang untuk menyampaikan pendapat, aspirasi dan menyampaikan aktivitas secara gamblang. Juga merupakan tempat mahasiswa mengembangkan diri. Dengan demikian mobilitas masyarakat mulai beralih ke media sosial ketimbang secara langsung.

Dengan melihat fenomena ini; berkembang pesat dunia teknologi informasi, maka aktivitas sosial politik pun mulai bergeser ke sosmed sebagai media komunikasi umum dan menjadi legitimasi elektoral politik. Dan hampir semua mahasiswa Indonesia terutama asli Papua berada di sana.

Mahasiswa harus rensponsif

Telah nyata,mahasiswa Jaman Now sudah biasa merenspon namun sayangnya hanya berhenti di situ tanpa ada tindak lanjut. Respon yang ditunjukan hanya berupa komentar, menekan tombol suka, dan menekan tombol share pada sosmed.

Umpama, hadirnya isu sosial politik di sosmed  rupanya tidak bermanfaat bagi mahasiswa. Ini terjadi karena media sosial menyajikan hal yang lebih menarik dari isu sosial politik. Banyak sekali informasi yang tersebar di sosmed yang berlebihan dan membuat kalangan mahasiswa acuh tak acuh dengan informasi yang simpang siur dan tak jelas arahnya itu.

Adapun mahasiswa yang cukup rensopnsif dengan isu sosial politik di sosmed tidak begitu cermat menanggapinya. Hal itu terjadi karena  banyaknya kabar bohong dan malah membuat mahasiswa terjebak dalam kebodohannya sendiri.

Terkisis arus sosial media

Dengan begitu mahasiswa tidak mampu memahami situasi sosiak politik secara baik dan akhirnya tidak mampu menyuarakan keresahan masyarakat ke ruang publik. Mahasiswa pun punya kecenderungan masa bodoh dengan isu-isu yang bermunculan di Sosmed. Bagi mereka masalah yang terjadi akan berakhir di sosmed pula.

Sikap mahasiswa seperti ini merupakan dampak dari tidak terkontrolnya situasi sosmed oleh  para elite dalam mendidik mahasiswa. Juga merupakan dampak dari kecenderungan kita dalam bereksplorasi sosmed secara berlebihan. Terlebih khusus di saat para petarung suara politik menggunakan sosmed untuk menghalalkan segala cara. Entahlah!

*) Dari berbagai sumber

Editor: Aweidabii Bazil

6,653 kali dilihat, 2 kali dilihat hari ini

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

shares