Kebiasaan Mahasiswa Jaman Now; Bersuara di Dunia Maya Tapi Bungkam di Dunia Nyata!

Oleh: Nailah Husna Sabila

SALAH satu generasi penerus bangsa Papua adalah para mahasiswa. Mahasiswa dianggap mampu dalam menyikapi permasalahan untuk keberlangsungan negara Republik Indonesia ini. Banyak harapan rakyat bahwa mahasiswa adalah sebagai pelopor, pelaku dan penggerak dalam perubahan kondisi sosial negeri ini.

Namun, pada kenyataan yang ada saat ini kegelisahan muncul bahwa mahasiswa jaman sekarang berbeda dengan mahasiswa jaman dahulu. Dulu ketika mendengar nama mahasiswa, maka orang akan berdecak kagum dan iri.

Mahasiswa dahulu memiliki sifat kritis dan yang tak dapat dibendung. Menyampaikan aspirasi untuk membela rakyat dengan tindakan aksi yang solutif.

Lalu, bagaimana dengan mahasiswa jaman sekarang yang katanya “agent of change”? Menurut saya, kondisi mahasiswa saat ini sangat jauh dengan kondisi mahasiswa jaman dahulu. Mungkin disebabkan mahasiswa sekarang sudah terjerumus dengan kondisi perkembangan arus budaya tanpa selektif untuk memilahnya terlebih dahulu.

Sosial media merupakan kebutuhan primer mahasiswa jaman now. Era keterbukaan informasi membuat tiap generasi millenial tidak dapat jauh dengan gadget pribadinya. Namun, hal ini lah yang membuat lemahnya ciri khas mahasiswa yang kritis, idealis, dan akademis dalam kehidupan masyarakat.

Mahasiswa sekarang hanya bisa mengkritisi tanpa memberi solusi serta menjadikan aksi demonstrasi sebagai gaya semata tanpa mengambil esensi yang tersirat. Sosial media hanya dijadikan topeng dibalik suara dan teriakan yang diberikan. Aktif mengkritisi melalui sosial media untuk mendapatakan pengakuan dan apresiasi tapi, pada faktanya apatis di dunia nyata.

Lalu, inikah fungsi dari ketersediaan teknologi yang canggih bagi mahasiswa? Harapan untuk meningkatkan kualitas tetapi berbalik arah menjadi menurunkan kualitas.

Mahasiswa yang dulunya dianggap sebagai akademisi yang memiliki pendidikan lebih, nyatanya belajar hanyalah sebuah ajang formalitas dan titip absen adalah sebuah identitas.

Nilai dan ijazah adalah tujuan akhir dari mahasiswa masa kini dan enggan menegok rakyat yang membutuhkan bantuan. Beban skripsi dan tugas akhir dilalui sembari cangkruk di warung kopi karena ada “joki” yang siap dibayar untuk mengerjakan.

Seruan jargon yang sudah tidak asing lagi didengar oleh seluruh mahasiswa Indonesia, “HIDUP MAHASIWA!” hanyalah sebuah seruan fana tanpa memahami dan memaknai apa arti mahasiswa sesungguhnya. Mahasiswa kini berulang kali menyuarakan namun tidak berbuat apa-apa.

Hilangnya idealisme mahasiswa dan dukungan masyarakat membuat mahasiswa seperti kehilangan arah. Momentum-momentum seperti reformasi pun manjadi kehilangan jiwanya. Reformasi dan mahasiswa seperti berjalan sendiri-sendiri. Tidak ada yang mengawal reformasi, sehingga reformasi seperti kehilangan arah dan kebablasan.

Mahasiswa saat ini seakan lupa siapa dirinya dan untuk apa mereka dikuliahkan. Kaum minoritas berintelektual ini sebenarnya merupakan tulang punggung pembangun bangsa dan negara menuju perubahan yang lebih baik. Sedikit kita melihat sejarah perubahan bangsa, dimana motor penggerak utamanya adalah mahasiswa seperti kemerdekaan Indonesia yang tidak lepas dari peranan kaum muda dan mahasiswa, peralihan orde lama ke orde baru dan yang terakhir adalah reformasi 1998 yang meruntuhkan orde baru.

Mahasiswa jaman sekarang lebih mengutamakan kepentingan pribadi dan melupakan tanggung jawab diri sebagai mahasiswa yang seharusnya. Julukan agent of change telah berubah menjadi agent of instagram bagi mahasiswa saat ini.

Puisi yang disampaikan oleh Najwa Shihab di bawah ini merupakan cerminan kondisi mahasiswa masa kini.

“Mahasiswa masa kini
Menjadikan forum diskusi
Sebagai ajang pamer intelegensi
Menjatuhkan yang lain demi meninggikan gengsi

Hobinya mengkritisi
Tapi tak sanggup berkontribusi
Berlagak politisi
Tapi masih ciut dihadapan birokrasi
Banyak menjadi mahasiswa wifi
Yang diam dan bungkam dijejal koneksi

Belajar jujur dikata individualis
Tak memberi contekkan katanya tak etis
Open brain tanpa open internet dibilang tak realistis
Miris!

Mahasiswa terlalu terambung IPK
Huruf dan Angka yang masih dianggap simbol bahwa ia bisa
Tak peduli hasil dari mana
Asal bisa mendapat A

Tak peduli rakyatnya lapar
Harga kebutuhan dikendalikan pasar
Teriakan mahasiswa tiada terdengar
Mereka diruangan berAC ‘katanya’ sedang belajar

Mahasiswa kekinian
Titip absen dianggap simbol setia kawan
Tak ada motivasi belajar membenahi tatanan
Kuliah asal cukup kehadiran
Masa bodo rakyat menderita asal mereka duduk nyaman

Mahasiswa!
Agen perubahan katanya
Akbarkan sumpah mahasiswa beserta makna
Jangan hanya mengejar IPK
Rakyat tak butuh angka
Mereka perlu aksi nyata ”

Sekilas puisi tersebut cukup menggambarkan kondisi dan situasi mahasiswa masa kini. Indonesia saat ini butuh generasi bangsa yang tidak mementingkan kehidupannya sendiri melainkan kehidupan bangsa dan negara.

Harapan terus mengalir terhadap mahasiswa agar kembali menjadi agen-agen perubahan untuk negara seperti mahasiswa dahulu kala. Mahasiswa yang berani menunjukkan aksi nyata tanpa embel-embel popularitas.

Indonesia bukan hanya butuh orang-orang akademis tetapi tidak memberikan kontribusi terhadap negara. Mahasiswa kini dituntut agar mampu dalam sisi akademis maupun non akademis. Indonesia butuh penggerak untuk menuju tujuan nasionalnya dari pemudanya. Mahasiswa yang seharusnya menjawab tantangan-tantangan bangsa ini.

Mahasiswa memang bukan pekerja sosial. Tetapi mahasiswa harus mampu menunjukkan bahwa mereka adalah agen yang siap menyelesaikan berbagai persoalan yang terjadi di masyarakat, dan siap memberikan gagasan cerah dengan sikap optimisnya pada saat menghadapi suatu persoalan.

Penulis adalah mahasiswi pada salah satu Universitas Negeri di sudut kota

 

Editor: Aweidabii Bazil

2,604 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

shares