Lawan Penyakit Sosial, Komunitas Mee Yokaa Bagi Atribut Bola Kaki

Jayapura, [WAGADEI] – Penyakit sosial di kalangan anak muda Papua sudah tak dibendung lagi. Guna melawan penyakit sosial yang sedang marak di Meepago, Komunitas Mee Yokaa (KMY) membagi berbagai atribut olahraga terutama sepak bola di setiap kampung yang memiliki lapangan sepak bola.

Alfons Yogi, pembina KMY mengatakan, sepak bola ternyata bukanlah sekadar permainan 11 melawan 11. Tetapi, olahraga tersebut bisa juga membantu memberikan jalan keluar atas sejumlah isu sosial, termasuk komunikasi dan lingkungan hidup.

“Kami bentuk dengan nekat hati kami, itu sebagai kepedulian pada generasi Papua di Meepago hari ini dan ke depan. Kami inginkan melalui kesibukan bermain sepak bola dapat mengurangi aktivitas negatif anak-anak di Nabire dan pada umumnya di Wilayah Meepago,” kata Alfons Yogi kepada wagadei.com, Minggu, (2/6/2019) di Nabire.

Ia mengatakan, selain membagikan atribut juga memberikan motivasi dan inspirasi hidup pada anak-anak Papua. Olahraga terutama sepak bola, menurut Yogi juga diyakini sangat kuat sebagai sarana perubahan sosial.

“Kami sudah berikan bantuan atribut bola di dua tempat, PS Simapitowa di Wonorejo dan PS Urumusu di Topo. Jadi, nekat kita ini tanpa sumber dana yang disponsori oleh pihak mana pun. Kami akan terus optimis dan terus memberikan hal-hal positif melalui sepak bola, khususnya di wilayah Meepago,” bebernya.

Ketua Komunitas Mee Yokaa, Fredy Degei mengatakan, kini pihaknya tengah belanja bola dan atribut lainnya untuk distribusiikan ke tempat lain. Pihaknya melakukan belanja bola dengan sumbangan sukarela.

“Saat ini beberapa bola dalam kapal dari Jakarta ke Nabire. Korlap kami Frans Kayame dan beberapa teman saya sudah survey, selanjutnya kami akan turun ke lapangan lagi,” ujar Degei.

Ia mengaku, pihaknya sengaja berkampanye untuk masalah-masalah sosial lewat sepak bola. Sebab menurutnya, sepak bola dapat diterima oleh setiap orang di muka dunia ini. Dalam sepak bola, terdapat banyak nilai yang bisa jadi awal pembentukan karakter seseorang, terutama bila mulai dikenalkan sejak dini.

“Kami fokus menangani anak-anak usia remaja dan belasan tahun dengan latar belakang sosial beragam. Ada yang berasal dari lingkungan keluarga tak harmonis, ketakutan akibat perang berkepanjangan, diskriminasi gender, hingga isu kesehatan seperti virus HIV, rokok, minuman keras, dan obat-obatan terlarang,” ungkapnya.

Lebih lanjut, pihaknya juga memiliki kurikulum khusus untuk pengembangan sepak bola sebagai sarana mengampanyekan pesan sosial dan membawa perubahan sosial.

“Sementara kami fokus bagi bola saja dulu sambil kami melihat semangat bermain bola anak-anak yang kami berikan bola. Nanti di agenda berikutnya baru kami siapkan atribut latihan lainnya. Itupun kalau dana sumbangan sukarela kami mencukupi,” pungkasnya. (Mr. Nomen)

Editor: Aweidabii Bazil

398 kali dilihat, 2 kali dilihat hari ini

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

shares