Kleopas Sojuna Sondegau Jadi Imam Katolik, Bukan Keputusan Mudah Bagi Keluarganya

Jayapura, [WAGADEI] – Sebagai sebuah pilihan hidup, terlebih mengambil keputusan besar di usia yang cukup muda untuk menempuh pendidikan yang nantinya menjadi Pastor (imam) Katolik memunculkan ragam respon dari keluarga.

Pastor Kleopas Sojuna Sondegau, Pr mengatakan, dirinya bersama delapan rekannya yang ditahbiskan oleh Uskup Keuskupan Jayapura, Mgr. Leo Laba Ladjar, OFM, di gereja Katolik Kristus Kebagkitan Kita Kota Raja, keluarga cukup mendukung keputusannya. Meskipun berat di awal, namun ia merasakan dukungan tersebut tetap mengalir dari keluarga.

“Untuk serius menekuni pendidikan ini sampai akhirnya ditahbiskan menjadi Pastor merupakan sebuah panggilan jiwa,” kata Pastor Kleopas Sojuna Sondegau, Pr kepada wagadei.com usai misa perdana dan syukuran di Kapela Angkasapura, Minggu, (2/6/2019).

Selain itu, menjadi Pastor dalam lingkungan gereja Katolik bukanlah perjalanan mudah. Pendidikan bertahun-tahun harus ditempuh. Tantangan bisa datang dari mana saja. Dukungan keluarga pun tak kalah pentingnya. Tak ayal, banyak juga yang berhenti di tengah jalan.

“Keluarga memang sangat berat denga keputusanku menjadi imam Katolik, karena saya ini anak pertama dari keluarga kaya raya di Intan Jaya. Saya cucu pertama dari sonowi (orang kaya) Oktopianus Sondegau yang punya babi ratusan ekor, kulit bia dan harta lainnya. Saat saya masuk ke Seminari, mungkin secara kelihatan, secara nampak, mereka sungguh mendukung, tetapi ya pasti ada rasa, mungkin berat ya, karena saya harus meninggalkan semua yang dimiliki keluarga itu, Tetapi pada prinsipnya, untuk menjadi imamnya, tetap didukung, tetap diberikan keleluasaan, tanpa dipaksakan,” tutur Pastor Sojuna Sondegau.

Kleopas yang memiliki moto tahbisan ‘Tinggallah Bersama Kami, Ya Tuhan’ yang dikutp dari Bdk. Lukas 24:29 itu mengungkapkan walaupun keluarganya tidak menginginkan ia menjadi imam, namun dirinya tetap berprinsip bahwa hendak melayani umat Tuhan merupakan keputusannya tak bisa diganggu gugat oleh banyak orang.

“Walaupun mereka (keluarga terutama tete) tidak inginkan saya jadi pastor, tapi saya tetap pada keputusanku bahwa menjadi pastor adalah harga mati. Saya tidak udik dengan semua harta kekayaan itu,” katanya.

Setelah dirinya bersama ayahnya Benediktus Sondegau dan mamanya Agnes Sani beritahu keputusannya itu kepada Oktopianus Sondegau kurang lebih dua tahun terakhir ia ditahbiskan menjadi seorang Diakon, justru sang Sonowi itu menyetujui dan secara kontinyu mendoakan cucunya itu agar waktu yang tidak terlalu bisa ditahbiskan menjadi Pator.

“Memang paitua Sonowi sangat berat, bahkan dia ancam kembalikan segala kerugian taruh maskawin mama Agnes itu kembalikan. Juga sempat paitua berteriak-teriak tidak setuju dengan keputusanku, dia beralasan semua harta benda itu hendak warisi kepadaku. Tapi saya tolak semua, saya memilih jadi imam,” ungkapnya sambil senyum.

Perjalanan Panjang Menjadi Pastor

Pendidikan awal menjadi seorang Pastor dimulai dengan pendidikan di institusi pendidikan dasar bagi para calon Pastor bernama Seminari. Seminari sendiri berasal dari kata “Seminarium”, bahasa Latin yang terbentuk dari kata dasar “semen”, yaitu benih. Jadi, Seminari adalah tempat menanamkan benih-benih kebaikan bagi para calon Pastor.

Pastor Sondegau menceritakan, pendidikan Seminari biasa ditempuh dalam waktu empat tahun, dimulai ketika seorang pria memasuki usia setara kelas tiga SMP dan lulus pada kelas tiga SMA. Lulus dari Seminari, barulah siswa tersebut dapat melanjutkan pendidikan lebih tinggi untuk menjadi seorang Frater, ditahbisaksan menjadi Diakon seorang calon Pastor.

“Dulu saya SD di Bilogai tahun 1997/1998 lalu masuk SD Inpres Yokatapa. Pada tahun 2000 ada tes penerimaan penghuni asrama baru, asrama Nduni St. Martinus Bilogai yang didirikan oleh Pastor Paroki Bilogai, Pastor Marthen Kuayo, Pr. Tahun 2001 dinyatakan lulus untuk tinggal di asrama Nduni St. Martinus. Sehingga kelas V dan VI sekolah di SD YPPK Bilogai dan selesai tahun 2002,” bebernya.

Selanjutnya, ujar dia, Pastor Kuayo kirim Sojuna ke SMP YPPK St. Thomas Wamena bersama dengan tiga rekan lainnya. Usai tamat SMP ia melanjutkan SMA di SMA YPPK St. Thomas Wamena. “Selama saya SMP dan SMA di Wamena, saya tinggal di asrama hingga selesai tahun 2008,” imbuhnya.

Di sini ia mengambil keputusan agar melanjutkan jenjang pendidikan untuk menempuh studi Filsafat dan Teologia. Usai pendidikan menengah pertama dan menengah atas di Lembah Baliem, ia melanjutkan ke KPA Waena tahun 2009. Tahun 2010 Tahun Orientasi Rohani (TOR) di Nabire. Sejak TOR se-Papua dibuka di Nabire, Kleopas dan rekan-rekan seangkatannya menjadi angkatan pertama di TOR Nabire. Tahun 2011 lanjut S1 di Sekolah Tinggi Filsafat Teologi (STFT) “Fajar Timur” Abepura. Tinggal di seminari tinggi sambil kuliah di STFT.

Lulus dari jenjang pendidikan menengah ini, dibutuhkan waktu bertahun-tahun untuk menjadi Pastor. Pastor sendiri adalah seorang “bapak” yang bertugas sebagai Imam dalam suatu gereja Katolik. Kata “Pastor” sendiri berasal dari bahas Latin dengan arti “gembala”. Jadi, seorang Pastor diharap dapat menggiring umatnya sebagai domba-domba, mengenal Tuhan.

Ditegaskan, penentuan kapan bisa ditahbiskan menjadi Pastor pun ditentukan oleh kongregasi atau ordo yang dipilih Frater (diakon) tersebut. Sementara pilihan ordo ada di tangan siswa itu sendiri.

Untuk tahapan pendidikannya sendiri, setiap ordo sebenarnya memiliki tahapan yang sama. Mulai dari tahun persiapan, kuliah Filsafat, orientasi Pastoral, kuliah Teologi, dan masa persiapan sebelum menjadi Pastor. Namun, jangka waktunya berbeda-beda.

“Kira-kira, tahap-tahap formasinya itu sama, setiap ordo, setiap kongregasi, itu biasanya di tahun pertama tahun persiapan. Kalo kami menyebutnya orientasi rohani. Di sana dipersiapkan orang untuk mendalami bidang rohani, kurang lebih selama 1-2 tahun. Lalu, selesai itu, lanjutkan kuliah Filsafat, belajar filsafat, itu kurang lebih 4 tahun. Lalu, setelah lulus kuliah filsafat, biasanya orang di luar itu menyebutnya ya praktek kerja, kami menyebutnya itu tahun orientasi Pastoral, atau kerasulan. Itu bisa ditempatkan di gereja-gereja di sekolah-sekolah, atau di lembaga-lembaga lainnya. Jadi, di sana kita akan praktek untuk mengaplikasikan apa yang dipelajari selama kurang lebih 4 tahun. Kurang lebih masa kerasulan itu 1-2 tahun. Setelah selesai itu, dilanjutkan dengan pendidikan lagi di Teologi, selama 3 sampai 4 tahun. Setelah lulus dari kuliah Teologi, lalu ada masa persiapan selama enam bulan, lalu setelah selesai enam bulan itu, seorang Frater itu ditahbiskan menjadi Diakon untuk asa persiapan menjadi seorang Pastor atau Imam,” tuturnya.

Nyatakan Melayani di Keuskupan Jayapura

Walaupun Pastor Sondegau berasal dari Keuskupan Timika, ia menyatakan sikap akan melayani uat Tuhan di Keuskupan Timika. Hal itu lantaran selama menempuh pendidikan sejak masuk SMP hingga ditahbiskan jadi Imam  dibiayai dari Keuskupan Timika.

“Benar saya dari Keuskupan Timika, tapi sejak SMP sampai selesai kuliah ditanggung penuh dari Keuskupan Jayapura jadi tetap layani umat Tuhan di sini (Jayapura),” katanya.

Di Balik Keputusan Menyerahkan Diri untuk Melayani

Mengetahui lamanya periode pendidikan, tentu dibutuhkan komitmen kuat untuk memulai dan menyelesaikan semuanya Maka dari itu, dibutuhkan keputusan matang-matang untuk memulai pendidikan di Seminari dan berakhir menjadi Pastor. Bagi Sondegau yang sekarang sudah menjadi Imam, keputusannya untuk mengabdi pada Tuhan tak lepas dari peran keluarga yang aktif membawanya ke gereja.

“Kalau saya waktu awal memutuskan menjadi Frater, pertama-tama pasti muncul di tempat tinggalku. Tempat tinggalku di asrama, di sana ada Pastor Bas yang saya anggap dia adalah bapaku. Tiap saat pelayanan ke paroki, stasi dan kombas-kombas tentu saya ikut bawa tasnya. Pulang ke asrama juga Pastor Bas tetap layani umat yang datang minta doa. Walaupun capek, tidak makan tapi tetap setia. Maka ia selalu mengajak saya untuk pergi ke gereja, melakukan ibadah, dari situlah timbul rasa ketertarikan untuk menjadi seorang Imam,” ujar dia.

Tidak hanya itu, Kleopas juga mengungkapkan bahwa figur lain dari para Imam yang ia temui juga membuatnya semakin bertekad bulat untuk menjadi Pastor.

“Figur dari para Imam yang hadir di gereja saya, figur-figur tertentu yang memberikan teladan, yang memberikan contoh kegembiraan, melihat Pastor yang dekat dengan umatnya, dekat dengan anak-anak, dekat dengan orang muda, dekat dengan orang-orang tua pun itu menjadi teladan yang juga mempengaruhi panggilan-panggilan untuk menjadi seorang Imam,” lanjutnya.

“Awalnya karena keinginan sendiri untuk mendaftar dan mengikuti tes setelah lulus SMA, karena tertarik untuk hidup mandiri dan jauh dari rumah. Dan melihat masa depan sebagai imam adalah masa depan yang mengasyikkan,” katanya.

Tantangan dalam Penyerahan Diri dalam Tangan Tuhan

Dalam agama Katolik, menjadi Pastor berarti harus hidup dalam kesederhanaan, ketaatan dalam Tuhan, dan selibat yaitu menyerahkan seluruh hidupnya untuk melayani Tuhan. Maka dari itu, penyerahan diri ini bukanlah suatu tindakan mudah.

Bukan hanya dibutuhkan keputusan bulat, imanpun harus kuat. Bahkan dalam menjalani pendidikan sampai menjadi Pastor, pastinya ada banyak tantangan yang harus dihadapi. Baginya , tantangan terbesarnya adalah gaya hidup zaman sekarang. Pasalnya, memenuhi tiga prinsip hidup di jalan Tuhan tidaklah mudah pada masa sekarang.

“Untuk tantangan yang dihadapi pada zaman sekarang, itu terlebih kalau yang saya rasakan sekarang adalah, bagaimana mensiasati gaya hidup zaman sekarang. Karena menjadi Pastor, menjadi Frater, itu sebenarnya bukan sebagai cita-cita, bukan sebagai pekerjaan, bukan sebagai jenjang karir, tetapi menjadi Frater, menjadi Pastor, itu adalah pilihan hidup yang mengikrarkan (diri pada) tiga janji, kesederhanaan, ketaatan, dan kemurnian (selibat),” ucapnya enteng.

Ketika ia menjadi siswa di Seminari, ia merasa bahwa tantangan itu datang dari gaya hidup pendidikan Seminari yang sangat teratur. Gaya hidup tersebut membuat dirinya merasa ingin mandiri sabil dekati para pastor tertua seperti Alm. Dr. Neles Tebay Kebadabi, Pr, Pastor Yan You, Pastor John Bunai dan lainnya.

“Tantangan yang dihadapi bermacam-macam, mulai dari pola hidup yang teratur, mulai dari bangun sampai tidur semua terjadwal dengan jelas. Kegiatan yang berulang-ulang, di situlah kita dibentuk menjadi taat dan mandiri,” bebernya.

Tekadnya yang keras untuk menjadi pelayan Tuhan membuat Sondegau sekarang biasa dipanggil Pastor Kleopas. Ia telah menyelasaikan semua tahapan.

Bertahan untuk melayani Tuhan dengan sepenuh jiwa dan raga pastinya bukan keputusan mudah. Hal ini juga tidak lepas dari latar belakang dan dukungan keluarga. Seperti yang dikatakannya di awal, keinginanya menjadi seorang Pastor telah tergenapi dan akhirnya ia bisa melihat Pastor sebagai figur teladan.

“Menjadi Pastor tidak terpengaruh dari adanya faktor panggilan untuk melayani Tuhan. Lebih lagi, perbedaan lingkungan, sikap dan prinsip hidup pun melatari keputusanku untuk jadi imam,” kata dia. (Abeth A. You)

8,288 kali dilihat, 6 kali dilihat hari ini

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

shares