Aloysius Giyai: Direktur Rumah Sakit Harus Seorang Dokter

Dogiyai, [WAGADEI] – Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) Provinsi Papua, drg.  Aloysius Giyai mengatakan, pimpinan tertinggi dalam struktur rumah sakit adalah seorang dokter mulai dokter spesialis, dokter umum dan terendah adalah dokter gigi.

Sedangkan, kata Giyai, tenaga kesehatan lainnya tidak memiliki kesempatan, meski memiliki kemampuan karena berbenturan dengan Undang-Undang Nomor 44 tahun 2009 tentang Rumah Sakit.

“Pimpinan tertinggi rumah sakit umum daerah mesti dijabat oleh seorang dokter umum, dokter spesialis atau dokter gigi. Ini bukan kata saya, tapi kata undang-undang,” kata drg.Aloysius Giyai dalam sambutannya pada peresmian RSU Pratama Dogiyai,Rabu, (29/5/2019).

Meski demikian, Direktur RSU Pratama Dogiyai dijabat seseorang yang bergelar S.KM. Giyai meminta kepada pimpinan daerah harus perhatian aturan tersebut.

“Tapi harus juga hargai jasa Lukas Dumupa, walaupun bukan berasal dari dokter (bergelar S.KM) tapi ia mampu mendirikan rumah sakit itu di tengah krisis melanda. Maka, saya usulkan kepada Bupati jangan ganti secepatnya. Tunggu sampai pembangunan fisik, SDM dan alat kesehatan rampung dulu baru silahkan ganti,” ungkapnya.

Kata dokter Alo,  sesuai dengan kondisi faktual pelayanan kesehatan yang berkualitas,  namun masih  dihadapkan dengan berbagai permasalahan. Di antaranya masih tingginya kematian bayi, masih tingginya kematian ibu, belum seimbangnya razio antara tenaga kesehatan dan penduduk dan belum seimbangnya fasilitas kesehatan dengan jumlah penduduk.

“Untuk mengatasi berbagai permasalahan itu pemerintah melalui dinas kesehatan,  RSUD dan semua stakeholder saling kerja sama. Tidak boleh jalan sendiri-sendiri. Kita harus sayangi masyarakat. Karena nanti akhirat Tuhan akan Tanya, kamu sudah kerja selamatakan rakyatmu atau tidak? Mengapa tidak pernah bantu selamatkan padahal sudah dapat pekerjaan yang layak,” ucapnya.

DirekturRSU Pratama Dogiyai, Lukas Dumupa mengatakan, dirinya telah mengetahui Undang-Undang Nomor 44 tahun 2009 namun bekerja membangun gedung itu sejak tahun 2016hanya karena peduli pembangunan dan cinta masyaraat setempat.

“Sejujurnya mau ganti atau apa itu tergantung pimpinan daerah di sini. Yang jelas kami tetap mengabdi pada profesi kami sebagai tenaga kesehatan demi derah dan rakyat tercinta,” kata dia.

Ia mengatakan, berbagai upaya telah dilakukan untuk membackup peningkatan status rumah sakit tersebut. Seiring dengan itu pula saat ini telah memiliki 28 tenaga kesehatan. “Kami masih butuh 160 orang tenaga kesehatan dari berbagai jurusan. Itu tidak mudah,” ucapnya. (Aweidabii Bazil)

1,183 kali dilihat, 18 kali dilihat hari ini

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

shares