Humas Polda Papua Disebut Penyebar Isu Hoax

Jayapura, [WAGADEI] – Petinggi gereja Katolik di Dekenat Paniai, Keuskupan Timika, Pastor Santon Tekege, Pr menyatakan, Bidang Hubungan Masyarakat Kepolisian Daerah (Humas Polda) Papua selalu menyebarkan informasi tidak benar (hoax), terutama berkaitan dengan insiden Deiyai berdarah yang menewaskan Yulianus Mote (18).

Hal itu, Pastor Tekege menanggapi pemberitaan di salah satu media nasional, Kabid Humas Polda Papua, Kombes AM Kamal menuturkan, selain membakar Mapolsek Tigi, massa juga membakar dua rumah toko (ruko) di Papua. Polisi juga mendapat laporan adanya dugaan tindakan asusila kepada tiga wanita, Selasa (21/5/2019).

“Saya bantah, tidak ada ruko yang dibakar. Saya nyatakan Humas Polda Papua menyebarkan isu hoax kepada publik bahwa adanya terjadi pembakaran ruko di Deiyai,” kata Pastor Santon Tekege kepada wagadei.com via selularnya, Sabtu, (25/5/2019).

Menurut dia, ruko adalah sebutan bagi bangunan-bangunan di Indonesia yang umumnya bertingkat antara dua hingga lima lantai, di mana lantai-lantai bawahnya digunakan sebagai tempat berusaha ataupun semacam kantor sementara lantai atas dimanfaatkan sebagai tempat tinggal.

“Yang jelas di Deiyai tidak ada ruko. Kalau anda sebut ruki (rumah kios) itu wajarlah. Karena yang dibakar masyarakat itu kios depan pertigaan Waghete II dan jumlahnya anda ketahui itu,” tegasnya.

Selain itu, Tekege menegaskan, Polda Papua juga telah menyebarkan isu hoax bahwa di Deiyai tidak ada penembakan. “Saya Pastor, pimpinan gereja Katolik Paniai berkata Polda Papua makan itu tubuh  korban meninggal Yulianus Mote dan korban meninggal lainnya yang ditembak mati oleh Polisi selama ini di Deiyai,” jelas Tekege.

Ia menegaskan, cara Polda Papua hanya mengangkat kebakaran Mapolsek Tigi dan ruki milik pedagang non Papua merupakan cara melindungi pelaku penembakan. “Kita sudah tahu cara kanak-kanak itu, sudah lama mereka praktekan hal itu,” imbuhnya.

“Jadi Humas Polda Papua, engkau jangan menyebarkan informasi bohong kepada publik . Dan engkau jangan menyembunyikan para pelaku polisi penembak terhadap warga sipil di Deiyai.

Penembakan terhadap beberapa warga sebelumnya pada 2012 di pusat kota Waghete. Selanjutnya, penembakan terhadap seorang pelajar SMP Negeri Tigi pada 2013 di depan Polsek Tigi. Kasus penembakan terhadap 17 warga sipil  pada 1 Agustus 2017 di Oneibo, dan TERAKHIR Penembakan terhadap dua orang warga sipil, Melianus Dogopia (18) mengalami luka tembak di bagian paha, sedangkan Yulius Mote (18) tembak mati ditempat.

Ketua Barisan Muda Deiyai Sejahtera (BMDS) Mando Mote meminta Kapolda Papua, Brigjen Pol Rudolf Alberth Rodja menyelidiki fakta dan situasi riil terkait kasus penembakan yang menewaskan Yulianus Mote dan melukai Melianus Dogopia, serta pembakaran markas Kepolisian Sektor (Polsek) Tigi.

“Polda Papua seharusnya tidak menyampaikan berita miring atau memutarbalikkan fakta melalui pernyataan di media,” kata Mando Mote dilansir jubi.co.id. (Enaakidabi Carvalho)

Editor: Aweidabii Bazil

 

 

724 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

shares