Menyuntik Darah HIV/AIDS Dalam Tubuh Manusia Papua

Isu Adanya Pemekaran Propinsi Papua Tengah

 

Oleh: Marius Goo

 

Pengantar

Sejak Papua diintegrasikan dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia melalui PEPERA tahun 1961, Indonesia membuat aneka cara agar Papua tetap menjadi bagian dari NKRI, salah satunya dengan melakukan pemekaran wilayah pemerintahan, baik Propinsi maupun Kabupaten kota. Pemekaran Propinsi juga Kabupaten merupakan perpanjangan kekuasaan pemerintah dalam wilayah kekuasaan. Keputusan para Bupati Meepago pada beberapa hari lalu 06  Maret 2019, dapat dinilai sebagai satu perluasan kekuasaan dari Pemerintah Indonesia atas Papua. Para Bupati adalah alat negara untuk perluasan penguasaan pemerintah atas rakyat Papua, tidak lain adalah perluasan PEPERA yang telah dinilai cacat hukum dan HAM bagi masyarakat Papua. Tulisan ini hendak menanggapi keputusan para Bupati Meepago pada point 14 tentang “pemekaran Propinsi Papua Tengah” yang dipersiapkan dan disosialisasikan. Apakah keputusan itu tepat? Bukankah keputusan itu semacam “menyuntik darah HIV/AIDS dalam tubuh manusia Papua?” Berdasarkan pertanyaan ini, hendak menanggapi keputusan para bupati Meepago pada point 14 sebagai warga masyarakat yang memiliki hak bersuara dan terlebih hak warisan atas tanah Papua. Semoga tulisan ini menjadi diskusi lanjutan untuk menanggapi pernyataan para bupati Meepago sehingga tidak saling mengorbankan satu terhadap yang lain.

Propinsi Papua Tengah

Isu tentang Propinsi Papua Tengah bukan sesuatu yang baru. Isu ini sudah dibangun bertahun-tahun yang silam. Isu itu mendarat di permukaan ketika para Bupati melakukan pertemuan dan secara bersama-sama memutuskan untuk menghadirkan Propinsi Papua Tengah di tengah rakyat Papua.

Rakyat Papua membutuhkan pembangunan dan soal pembangunan itu harapan semua orang. Pembangunan tidak harus melalui “pemekaran”, baik pemekaran Kabupaten maupun Propinsi. Pembangunan dengan menghadirkan Propinsi dapat dipahami dalam dua pandangan yang paradoksal. Satu sisi benar demi pembangunan, pada sisi lainnya demi dan atas nama pembangunan rakyat kecil dengan segala kekayaan akan menjadi korban. Hal ini dikarenakan di mana pemerintah akan bermain dalam ranah sistem dan rakyat menjadi korban sistem dan struktur dalam ketidakberdayaan hukum.

Propinsi Papua Tengah untuk siapa? Pertanayaan ini menstimulasi rakyat sebagai yang berhak dan berulayat, juga Pemerintah yang bermimpi menghadirkan Propinsi ini berpikir lebih jauh dan lebih jernih lagi. Jangan sampai Propinsi untuk membangun rakyat, malah menjadi membunuh, atau memusnahkan rakyat. Jangan sampai bermimpi mendatangkan “Triliunan” bagi rakyat Papua melalui Propinsi, namun semua uang itu untuk membayar lunas nyawa manusia Papua dan manusia Papua menjadi musnah di tanah sendiri.

Yang mau dikatakan adalah “pemerintah jangan mengorbankan rakyat kecil yang tidak tahu dan tidak berdosa” dalam keputusan kerdil dan konyol, hanya karena ingin memiliki kekayaan: uang dan jabatan.

Menyuntikkan Darah HIV/AIDS

Kita telah tahu, HIV/AIDS merupakan penyakit yang paling ganas dan mamatikan. Di Papua penyakit ini telah diketahui semua lapisan masyarakat. Anak kecil yang belum masuk sekolah pun mengetahui bahwa penyakit HIV/AIDS merupakan penyakit paling berbahaya. Istilah yang dikembangkan adalah “3 huruf.”

Penyakit 3 huruf ini telah menghabiskan manusia Papua. Karena itu, penyakit itu yang paling ditakuti dan dihindari oleh masyarakat Papua. Untuk menghindari, sekaligus mengeliminasi dan bahkan menghentikan penyakit ini semua stakeholder bergerak mengatasinya dengan aneka cara dan gerakan..

Penyakit ini ternyata tidak takut untuk pemerintah (para Bupati) Meepago. Mereka berani dan senang kalau semua rakyatnya terjangkit penyakit HIV/AIDS ini dan habis-musnah di Papua. Alasan mereka tidak takut adalah, di mana oleh rakyat Papua melihat “Propinsi Papua Tengah” adalah alat negara yang mematikan seperti HIV/AIDS, mereka hendak menghadirkannya untuk rakyat.

Pernyataan para Bupati Meepago mau menghadirkan Propinsi Papua Tengah dinilai sebagai “penyuntikan darah HIV/AIDS dalam tubuh manusia Papua.” Memang menghadirkan Propinsi Papua Tengah merupakan satu hal yang ditakuti rakyat Papua, yang serta-merta dan secara buta disepakati bupati Meepago tanpa mempertimbangkan keinginan rakyat. Haruskah Propinsi Papua Tengah dimekarkan di Papua? Pertanyaan ini harus dijawab oleh dan bersama rakyat Papua, bukan dari para Bupati hanya karena nafsu kekuasaan dan ingin memiliki uang yang banyak.

Rakyat Papua

Rakyat Papua adalah pemilik hak atas manusia dan semua yang terkandung dalam pulau Papua. Mesti diingat bahwa rakyat Papua dan tanah Papua ada bukan karena para Bupati. Karena itu, pemerintah sebagai pionir pemerintah pusat memperhitungkan keinginan atau kemauan rakyat setempat. Semua keputusan, harus mengikuti keinginan rakyat, jika pemerintah sendiri memahami tentang “demokrasi” yang sesungguhnya.

Apa pun keputusan keselamatan dan kemerdekaan jiwa manusia menduduki posisi tertinggi. Adalah sangat keliru jika menghadirkan Propinsi Papua Tengah tanpa menghiraukan keselamatan dan kemerdekaan jiwa rakyat Papua, hanya karena nafsu uang dan jabatan. Menghadirkan Propinsi Papua Tengah hanya karena kekuasaan (uang dan jabatan), dapat dinilai sebagai anak durhaka dari ibu pertiwi, tanah Papua.

Penutup

Tanggapan saya sebagai anak Papua yang prihatin dengan kehidupan rakyat Papua yang kian hari kian habis, menghadirkan Propinsi Papua Tengah semacam “menyuntik darah penyakit HIV/AIDS” dalam tubuh rakyat Papua.

Artinya, bagi saya pemekaran Propinsi Papua Tengah merupakan satu perpanjangan penindasan terhadap rakyat Papua. Karena itu, isu ini tidak perlu diperpanjang dan diperbesar-besarkan lagi. Pernyataan para bupati pada point 14 dilihat saja sebagai mimpi yang tidak boleh terjadi dan rakyat harus mempunyai gerakan massa agar mimpi para bupati itu tidak terwujud, sehingga tanah dan kekayaan di Papua tidak dirampas habis demi kekuasaan dan keamanan negara.

(Penulis adalah Mahasiswa Pascasarjana Sekolah Tinggi Filsafat Teologi “STFT” Widya Sasana Malang)

1,910 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

shares