Mulai Januari 2019 Masyarakat Paniai Stop Jual Tanah

Paniai, [WAGADEI] – Bupati Paniai, Meki Nawipa meminta kepada masyarakatnya agar tidak boleh lagi menjual tanah. Ia menegaskan, mulai memasuki tahun baru 2019 hingga selamanya wajib melindungi tanah. Sebab, tanah bagi dia ibarat mama (ibu) yang memberikan hidup bagi setiap insan yang hidup di atas tanah.

“Mulai bulan Januari 2019 masyarakat stop jual tanah. Tidak boleh jual lagi. Tanah sudah kosong diisi oleh orang lain. Lihat saja Enarotali ini sudah tidak ada tanah lagi, tidak ada lokasi kosong. Sudah terjual habis, orang asli sudah tinggal di lereng gunung sana,” ujar Bupati Meki Nawipa baru-baru ini.

Bupati Nawipa juga mempertanyakan cara jual tanah yang dilakukan oleh masyarakat. Apabila tanah hendak dibeli oleh perorangan bisa tukar dengan motor atau seharga Rp5 sampai Rp10 juta.

“Tapi kalau Pemerintah yang beli biasanya minta miliaran rupiah. Nanti ganti kepala dinas atau bupati pemilik hak ulayat datang palang kantor minta tuntut bayar dobel lagi,” katanya.

Ia menegaskan, waktu yang baik ataupun tidak baik, lapar atau kenyang, sakit atau sehat semua orang hidup di atas tanah. “Kita matipun di atas tanah ini. Maka itu stop jual tanah lagi,” ucapnya.

“Kalau ada yang jual tanah itu berurusan dengan saya. Saya akan buat Perda soal pelarangan jual tanah, itu sudah pasti,” ungkapnya.

Dirinya melakukan hal itu guna melindungi hak kesulungan demi keberlangsungan hidup anak cucu masa depan. Sebab, kehidupan masa depan akan terancam jika tak punya tanah. “Kalau tanah-tanah dijual, mau tinggal di mana generasi kita ke depan tinggal, dan apa yang kita bekali untuk mereka mencari nafkah, saya rasa hal ini masyarakat harus pahami terlebih dahulu,”bebernya.

Ia mengharapkan peran gereja di Paniai dalam menyelamatkan orang asli Panaii dari tradisi jual beli tanah. Sebab, semakin sering masyarakat jual tanah, ruang untuk berkembang dari OAP semakin sempit.

Uskup Timika, Mgr. John Philip Saklil, Pr telah mendeklarasikan gerakan tungku api “Stop Jual Tanah” di Paroki Santa Maria Bunda Rosario Modio, Dekenat Kamuu-Mapiha, Dogiyai, Senin, (26/6/2018).

“Deklarasi tersebut dibuat  untuk melindungi dan mengelolah sumber hak hidup masyarakat Mapia atau suku Mee. Dengan ada jalan dan perkembangan di mana-mana bahwa tanah masyarakat terjual, para tokoh adat dan gereja mencanangkannya,” jelas Uskup Timika, Mgr. John Philip Saklil, Pr dikutip satuharapan.com.

Uskup John mengatakan, umat Katolik di keuskupan yang dipimpinnya berharap agar generasi muda dan selanjutnya masih punya dusun.  Oleh karenanya, ia mengharapkan tahap selenjutnya perlu dukungan dari pemerintah daerah diantaranya Nabire, Dogiyai, Paniai dan Deiyai untuk melegalkan supaya menjadi kebijakan bersama.

Menurut uskup pertama Keuskupan Timika ini, gerakan tidak boleh menjual tanah ibarat menyelamatkan hidup masyarakat dan generasi penerus. “Karena Orang Asli Papua (OAP) tak bisa hidup tanpa tanah, walaupun banyak uang. Jangan menjual tanah agar tidak kehilangan harta benda berharga para pendahulu yang akan menyulitkan anak cucu di kemudian hari,” jelasnya.

“Tanah itu mama, mama yang memberi hidup. Maka, jaga baik-baik dari ancaman jual beli tanah yang semakin meningkat ini,” papar dia.

Ia menambahkan, program gerakan tungku api yang dijalankan bukan hanya sekadar melindungi, lebih dari itu ialah cara mengelolanya guna menghidupi kebutuhan keluarga demi menyiapkan jalan bagi Tuhan sesuai moto keuskupan yakni Parate Viam Domini. (*/wagadei)

Editor: Abeth A. You

banner 120x600

Respon (255)

  1. One thing is that often one of the most widespread incentives for using your credit cards is a cash-back and also rebate provision. Generally, you will get 1-5 back on various purchases. Depending on the credit card, you may get 1 back again on most expenses, and 5 in return on expenditures made from convenience stores, filling stations, grocery stores and also ‘member merchants’. viagra without doctor prescription

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *