Kasus Nduga Berawal Ketika Jhoni Arung Potret Wajah Pimpinan dan Anggota TPN-OPM

Jayapura, [WAGADEI] – Peristiwa kontak senjata antara TNI/Polri yang dikerjakan sebagai karyawan PT. Istaka Karya dan TPN-OPM di Yigi dan  Mbua, Kabupaten Nduga berawal dari hadirnya Jhoni Arung, pimpinan PT. Istaka Karya dalam doa dan peringatan 1 Desember 2018 di Wuridlak Klasis Yigi Timur.

Demikian diungkapkan Front Rakyat dan Mahasiswa Anti Militerisme (FRMAM) ketika menggelar aksi damai depan Istana dan Kantor Komnas HAM Jakarta dengan tema Militerisme adalah pelaku utama pelanggaran HAM di Nduga, West Papua, Jumat,(18/1/2019) siang.

Dalam aksi tersebut, FRMAM menjelaskan bahwa pada saat penyerahan babi untuk acara, Johny Arung mengambil foto pimpinan dan anggota TPN-OPM yang hadir. Mereka yang hadir telah mengingatkannya supaya tidak mengambil foto dan yang sudah ambil dihapusnya. Namun Johny Arung tidak mengindahkan permintaan mereka. Setelah itu, pada saat pembagian daging Babi, Gembala setempat memberikan potongan daging babi pertama kepada Jonhny Arung.

“Pengambilan foto serta pemberian potongan daging Babi kepada Johny Arung telah mengundang kemarahan besar dipihak TPN-OPM pimpinan Egianus Kogeya. Bukan hanya mereka marah, namun pada saat itu juga secara spontan TPN-OPM hendak melakukan aksi terhadap Johny Arung, tapi dilindungi oleh gembala gereja setempat serta ibu-ibu yang ada,” ujar Ikonius Wakerkwa kordinator lapangan aksi FRMAM.

Dikatakan Ikonius, melihat reaksi kemarahann TPN-OPM, Johny Arung yang biasa dipanggil komandan oleh para pekerja sempat menawarkan uang dan senjata, namun penawaran tersebut ditolak. Karena luapan kemarahan mereka tidak tersalurkan terhadap Johny Arung, Egianus Kogeya memerintakan anak buahnya untuk turun melakukan penangkapan dan pembunuhan terhadap para pekerja yang sedang ada di Base-camp kali Yigi.

“Sesuai kesaksian anggota TPN-OPM, sejumlah orang pekerja memiliki kartu anggota TNI. Setelah itu, pada 3 Desember 2018, TPN-OPM melakukan penyerangan di Pos TNI di Distrik Mbua,” ucapnya.

Pasca kejadian,lanjutnya, mulai 4 Desember 2018 Pemerintah Indonesia mengerahkan pasukan gabungan TNI/Polri untuk melakukan operasi pengejaran terhadap TPN-OPM. Tindakan operasi yang dilakukan oleh aparat telah berdampak pada pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) dengan jatuhnya korban warga sipil di Distrik Dal, Yigi, Mbua, Mikuri, Enikngal, Yal, Distrik Mam dan Mugi.

“Korban penembakan meninggal dunia sebanyak tujuh orang. Korban meninggal karena dengar bunyi pesawat helikpoter militer dan bunyi tembakan senjata sebanyak empat orang. Anak-anak yang meninggal di pengungsian karena kelaparan adalah tiga orang. Korban meninggal dunia mahasiswa Nduga di luar Nduga satu orang. Korban luka tembak tujuh orang. Luka-luka bakar karena kena Bom (Granat) tangan dua orang. Korban hilang ada lima orang. Korban penahanan (ancaman) empat orang. Pengungsian warga sebanyak 22.000 orang dari 34 gereja dan  12 ditsrik. Ibu-Ibu yang melahirkan di pengungsian empat orang Ibu. Ibu hamil yang sedang menunggu melahirkan di pengungsian adalah 10. Selfina Lokbere (umur 32) meninggal saat melahirkan anak kembar,”tuturnya.

Jore Nginjage, korlap satu meminta dewan keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk melakukan intervensi kemanusiaan di Nduga demi menyelamatkan rakyat Nduga yang sedang mengungsi di hutan belantara sejak 4 Desember 2018.

“Pemerintah RI segera mencari solusi berupa dialog persoalan masalah Papua daripada melakukan pendekatan militer yang hanya mengorbankan masyarakat sipil,” imbuhnya.

Pemerintah Jokowi-Jk, kata dia, segera perintakan kepada Kapolri Tito Karnavian dan Kapolda Papua untuk menarik aparat gabungan dan segera membuka akses jurnalis independen asing maupun nasional  ke Ndugama.

“Kami mengencam aparat yang telah menembak ternak milik masyarakat sipil dan membokar pintu gereja, sertta merusakak fasilitas perumahan warga sipil di Kabupaten Nduga. Kami juga mengencam pembohongan yang dilakukan oleh Menkopolhukam (Wiranto), dia nilang tidak melakukan pengeboman. Padahal benar-benar aparat militer  menggunakan empat pesawat helikopter melakukan pengeboman di Mbua dan Yigi,” ungkapnya.

Pihaknya juga mengencam pembohongan mengatasnamakan pendeta Nataniel Tabuni yang mengatakan Pendeta Gemin Nirigi masih hidup pada kenyataan pendeta Gemin Nirigi telah di tembak mati oleh aparat dan mayatnya dibakar samping rumahnya sendiri mengunakan minyak tanah di Distrik Mampenduma.

Kami Mengencam dan Mengutuk, Matius Murib, & Pandam Cendrawasih dkk, yang melakukan Pembohongan Kondisi nduga dengan Natal secara Paksa kepada Masyarakat Sipil di Distrik Mbuah Kab. Nduga padakenyataanya di lapangan Masyarakat Sipil sedang Berduka, dan Pengusian kehutan Maupun Pelarian ke Timika, Asmat, Wamena, dan Lanijaya. (*/wagadei)

Editor: Abeth A. You

 

Share

2 thoughts on “Kasus Nduga Berawal Ketika Jhoni Arung Potret Wajah Pimpinan dan Anggota TPN-OPM

  • Januari 23, 2019 pada 2:05 pm
    Permalink

    Hi. I have checked your wagadei.com and i see you’ve got some duplicate
    content so probably it is the reason that you don’t rank high in google.

    But you can fix this issue fast. There is a tool that rewrites content like human, just search in google: miftolo’s tools

    Balas
  • Oktober 7, 2019 pada 3:54 am
    Permalink

    Cialis Viagra Comparatif Achat De Vrai Cialis buy generic cialis Discount fedex isotretinoin with overnight delivery medication overseas Viagra Generic For Sale Viagra Wikipedia

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

shares