Di Nduga, Aktivitas Kesehatan dan Pendidikan Memprihatinkan

Jayapura, [WAGADEI] – Sebanyak 30.000  anak asli Papua di Kabupaten Nduga belum mendapatkan imunisasi. Kurang lebih tiga anak meninggal dunia akibat kurang makan di distrik Dal. Empat ibu bersalin di hutan. Mereka tinggal di hutan berminggu-minggu. Jauh dari petugas medis dan pos layanan kesehatan. Anak- anak pun ikut lari ke hutan. Hingga sampai saat ini mereka tidak sekolah. Aktivitas layanan dasar kesehatan dan pendidikan lumpuh total.

Demikian dikatakan seoranng yang namanya tidak ingin diberitakan, kondisi kesehatan dan pendidikan saat ini amat memprihatinkan. Semenjak Presiden Joko Widodo (Jokowi) perintahkan TNI dan Polri untuk melakukan operasi militer guna mengejar TPN-PB di distrik Mbua, Dal, Mbulmu Yalma, Yigi dan sekitarnya.

“Aktivitas pendidikan dan kesehatan di daerah operasi militer benar-benar lumpuh total. Petugas kesehatan tidak ada di pos-pos layanan kesehatan. Sebaliknya, warga sipil pun tidak berani membawah orang sakit di Pustu maupun Puskesmas sekitarnya. Hal ini bisa dilhat dari aktivitas di Puskesmas Mbua dan Pustu Dal. Hingga saat ini, aktivitas pelayanan dasar kesehatan, seperti imunisasi Campak MRP (Measless Rubela Polio),” ujarnya saat berbicara dengan wagadei.com melalui telepon genggam baru-baru ini.

Lanjut dia, kondisi itu tak jauh beda dengan aktivitas belajar mengajar di wilayah tersebut. Sekolah-sekolah di wilayah ini tidak ada aktivitas, meski  rata-rata sekolah di Papua mulai aktif dari awal Januari 2019. Hampir semua sekolah masih tutup.

“Tidak ada guru dan murid di sekolah. Baik itu SD, SMP dan SMA. Kondisi terakhir mengenai aktivitas pendidikan di daerah ini bisa dilihat dari SMA Negeri Mbua,” jelasnya.

Setelah Mianus Lokbere (20 tahun) dan Nison Umangge (20 tahun) tewas akibat timah panas, aktivitas belajar mengajar di SMA Negeri Mbua dan sekitarnya belum berjalan normal. Libur panjang bisa disebut sebagai penyebab lain. “Tetapi faktor utama dari lumpuhnya aktivitas kesehatan dan pendidikan di wilayah ini adalah akibat dari operasi militer yang sedang berlangsung,” ungkapnya.

“Setelah konflik petugas kesehatan belum bisa masuk. Petugas hanya bisa sampai di Mbua. Tapi tempat lain, seperti di distrik Yigi, Dal, Mbulmu Yalma dan lainnya belum bisa. Masyarakat, termasuk anak – anak tidak bisa cepat kembali karena aparat masih menguasai perkampungan”, kata dia.

Ia bercerita, tidak ada warga sipil yang tinggal di rumah kecuali nene atau tete (lansia). Anak-anak dan ibu hamil semua lari ke hutan. Anak – anak tidak bisa sekolah. Orang tua tidak akan antar anak ke sekolah selagi aparat masih berada di pemukiman warga.

Untuk itu, kami, Tim Peduli Kesehatan dan Pendidikan (TPKP) Rimba Papua mendesak kepada:

Solemana Itlay, aktivis Tim Peduli Kesehatan dan Pendidikan (TPKP) Rimba Papua mendesak kepada  United Nation (PBB) segera mengirim lembaga kesehatan dunia, yakni WHO (World Health Organization) dan Unesco (United Nations Educational, Scientific and Cultural Orgnization) untuk melihat kondisii tak adanya pelayanan kesehatan serta pendidikan terakhir di Kabupaten Nduga, terutama wilayah konflik pasca penembakan dan operasi militer.

“Presiden Joko Widodo untuk segera perintahkan kepada Panglima TNI dan Kapolri guna “Menarik Pasukan Militer dan Aparat Keamanan dari Nduga, Papua,” beber Itlay.

Selain itu, pihaknya meminta kepada Presiden Jokowi segera perintahkan Menteri Kesehatan dan Menteri Sosial untuk menanganii kesehatan dan kondisi para pengungsi dari kalangan warga sipil yang tersebar di belantara Nduga dengan penanganan yang lebih intensif dengan melakukan imunisasi dan mengatasi kelaparan masyarakat sipil.

“Gubernur Papua dan Bupati Nduga, agar segera membangun koordinasi dengan OPD yang terkait, supaya melakukan imunisasi kepada tiga puluh ribu anak dan pengobatan kepada warga sipil yang mengalami sakit dan luka serius akibat operasii militer yang disertai dengan penembakan dan pengeboman di wilayah tersebut.

“Gubernur Papua dan Bupati Nduga, agar segera membangun koordinasi dengan OPD yang terkait, guna menjamin layanan dasar pendidikan bagi anak-anak sekolah di wilayah konflik, yang nasib dan masa depan pendidikannya tak menentu di hutan dan belantara Nduga,” jelasnya. (Yamoye’AB)

Editor: Abeth A. You)

Nama-nama korban dari kategori anak

No Nama Anak (Korban) Usia
1 Ubugina Unue 2 Tahun
2 Bugun Unue 1 Tahun
3 Raina Kogeya 5 Tahun

 

Namanama ibu yang bersalin di hutan

No Nama Ibu Usia
1 Lerebina Gwijangge 20 Tahun
2 Lerni Gwijangge 18 Tahun
3 Elsina Kogeya 35 Tahun
4 Bobina Kogeya 18 Tahun

 

Share

One thought on “Di Nduga, Aktivitas Kesehatan dan Pendidikan Memprihatinkan

  • Oktober 12, 2019 pada 8:39 am
    Permalink

    Lipitor No Prescription Needed Propecia Servir Viagra Generico 50 cialis generic Cialis Effets Secondaires Tadalafil Canada Kwikmed Coupons

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

shares