Ayahnya Bupati Paniai Dimakamkan di Kampung Kugitadi

Paniai, [WAGADEI] – Bupati Kabupaten Paniai, Meki Nawipa berduka. Ayahandanya, Yahya Nawipa, sang guru dan penginjil di pedalaman Paniai meninggal dunia, Sabtu, (12/1/2019) dini hari di Bapouda, Enarotali, Paniai.

Pria kelahiran Uwamani, 16 April 19467tersebut menderita stroke kurang lebih 10 tahun hingga akhirnya menghembuskan nafas terakhir.

Anak pertama almarhum, John Meri Nawipa mengatakan, pihaknya kebumikan di kampung Kugitadi atas kesepakatan semua keluarga selama dua hari dan dua malam.

“Jenazah kami makamkan di kKugitadi, persis di halaman rumahnya atas kesepakatan kami bersama,” ungkap John Meri Nawipa usai dimakamkan.

Jenazah almarhum diberangkat dari Enarotali ke Kugitadi jam 09.22 WP setelah melakukan ibadah pelepasan oleh Pendeta dan tiba jam 10.15 WP.

Setibanya di sana dilanjutkan dengan nyanyian rohani dan doa pengantar, selanjutkan memberikan penghormatan terakhir oleh keluarga dan menaburkan bunga yang diawali oleh Bupati dan mamanya, Ruth Gobai serta meletakan krans bunga di atas kuburan.

Andreas Degei, salah satu anak didik dari almarhum mengakui, bahwa dirinya menjadi seorang guru karena biasa cari anak umuran sekolah di tepi kali dan kebun.

“Kami menjadi pegawai karena almarhm biasa cari kami anak-anak yang pemalas ke sekilah dengan kayu dan rotan. Haslinya kami jadi pintar. Sungguh, kami benar-benar kehilangan seorang senior,” katanya.

Bupati Meki Nawipa saat meletakan krans bunga mengaku, apabila hidup dibayar menggunak uang maka umur bapak cukup panjang, namun karena kehendak Tuhan sehingga diantarkan ke tempat peristirahatan terakhir dengan tangisan, doa dan nyanyian bersama.

“Kalau hari ini hidup bisa dibeli dengan uang, saya (anakmu) sudah menjad orang nomor satu di sini (Paniai). Saya beli, tapi karena tidak bisa dan kehendak Tuhan jadi bapa selamat pergi,” ungkapnya sambil meneteskan air mata.

Dari pernikahannya pada 26 Juli 1968, Yahya dan Ruth dikaruniai tiga perempuan dan empat laki-laki serta lima anak angkat. Sejak awal ditugaskan sebagai seorang guru pada 1976 hingga pensiun pada tahun 2010, almarhum menjabat sebagai Kepala Sekolah teladan.

***

Kehilangan sosok ayah tidak tergantikan. Memang, tidak semua orang merasakan kehangatan yang terjalin dengan sosok ayah. Namun, tidak ada salahnya untuk memahami mereka yang kehilangan figur ayah.

Ayah mungkin bukan sosok yang banyak bicara. Ia adalah sosok yang mengutarakan perasaan lewat perbuatan. Pribadi yang menghidupi keluarga dengan kepiawaiannya dalam bersikap dan mengambil keputusan.

Bagi sebagian orang, ayah adalah sosok pelindung pertama. Figur yang menjadi pahlawan sekaligus role model di dalam keluarga. Akan tetapi, bagi mereka yang memiliki masalah dengan ayah, kehadirannya justru membuat tidak nyaman suasana di rumah. Walau demikian, kehilangan tetaplah kehilangan.

Kepergian sosok ayah di dalam keluarga memberikan ruang kekosongan yang mendalam dan pengalaman hidup yang menyakitkan.

***

Bagi anak laki-laki, ayah adalah seorang role model. Figur yang menjadi pahlawan di keluarga dan cerminan sosok laki-laki yang kuat. Ayah memberikan pendidikan pertama tentang bagaimana laki-laki sejatinya berperan di dalam kehidupan.

Sebuah penelitian mengatakan bahwa ketidakberadaan ayah di keluarga sejak anak masih kecil berpengaruh pada kemampuan sosial dan emosional. Ada kecenderungan untuk berperilaku agresif dan mudah marah. Meskipun demikian, agresivitas dapat berkurang seiring dengan kehadiran dukungan sosial yang diberikan oleh keluarga dan lingkungan positif yang mengelilingi sang anak.

Bagi anak perempuan, ayah bagaikan cinta pertama yang memberikan gambaran kekuatan untuk menghadapi masalah. Sebuah penelitian mengungkapkan bahwa rata-rata perempuan mencari pasangan yang seperti ayahnya. Hal tersebut karena anak perempuan yang memiliki pengalaman positif dengan ayahnya cenderung menginginkan kejadian tersebut terulang saat ia berkeluarga.

Kehilangan sosok ayah bisa menjadi pukulan terberat. Tidak ada lagi teman diskusi, tidak ada lagi pelindung dan pembela, tidak ada lagi yang memberikan gambaran figur laki-laki di keluarga, tidak ada yang bisa ditanyai “laki-laki yang baik itu seperti apa”, dan rasa kehilangan lain yang menjelma dalam kesepian. Wajar bila sedih. Normal bila ingin menangis. (*/wagadei)

Editor: Abeth A. You

 

 

 

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

shares