Kesenjangan Pendidikan di Paniai Sangat Tinggi, Bupati Meki Meradang

Paniai, [WAGADEI] – Pendidikan merupakan kewajiban yang harus dijalani oleh anak-anak bangsa, terutama di Paniai karena pada dasarnya pendidikan dapat memajukan karakter dan budi pekerti yang dimiliki oleh setiap individu. Melalui pendidikan, seseorang akan lebih bisa menerapkan pengetahuannya ke dalam kehidupan sehari-hari.

Tetapi faktanya, Kabupaten Paniai ternyata belum mampu memaksimalkan potensi yang ada, khususnya pendidikan. Di daerah Enarotali yang merupakan kota cenderung lebih maju daripada di daerah pedesaan. Pendidikan di wilayah Enarotali dan Madi masih rendah karena Pemerintahan terdahulu melalukan program pemerataan pendidikan belum mendapatkan pendidikan yang layak.

Bupati Paniai, Meki Nawipa menegaskan, berdasarkan laporan Keuskupan Timika, anak-anak Paniai tidak bisa masuk SMA terakareditasi A karena tingkat Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Paniai hanya dapat menghasilkan siswa berkualitas rendah.

“Pendidikan dasar di Paniai sangat hancur, sudah tidak ada harapan hidup lagi bagi generasi penerus di Paniai. Anak-anak sudah tidak berkualitas lagi sehingga Uskup Timika melaporkan kepada saya bahwa anak-anak Paniai susah masuk di SMA Adhi Luhur, itu karena persaingannya ketat,” ujar Meki Nawipa kepada wagadei.com usai pertemuan dengan para guru dan komite SD Inpres Dagouto, SD YPPGI Enarotali dan SD YPPK St. Michael Enarotali di ruang rapatnya, Selasa, (8/1/2019).

Ia mengaku, Paniai masuk ke dalam golongan yang kesenjangan pendidikannya cukup tinggi. Anak usia sekolah yang berasal dari kalangan ekonomi bawah rata-rata hanya dapat mengakses pendidikan sampai SD atau tidak sampai lulus jenjang SMP.

“Itu ulah pemerintah dan pihak sekolah serta komite masing-masing sekolah tidak bekerja sama. Itu sudah berdosa karena membunuh generasi masa depan,” katanya.

Pendidikan yang kurang maju ini mengakibatkan mayoritas masyarakat hanya berpendidikan tamatan SD. Minimnya masyarakat yang bependidikan tinggi mendorong bertambahnya angka pengangguran yang kemudian menimbulkan kemiskinan di Kabupaten Paniai karena kurangnya pengetahuan dan wawasan yang luas.

Selain laporan Keuskupan Timika, ia mengaku telah menemukan banyak sekolah tidak menjalankan proses belajar mengajar (KBM), antara atasan dan bawahan (guru) saling bermusuhan. “Sehingga diisi oleh sarjana non pendidikan sebagai tenaga honorer,” ujarnya.

“Laporan Uskup tersebut menyoroti adanya kebutuhan mendesak dalam peningkatan layanan pendidikan di Paniai. Bahwa perlu adanya upaya lebih dalam memajukan pendidikan global agar dapat lepas dari tren yang lambat tersebut. Kini pendidikan harus bertindak sebagai agen perubahan agar dapat mencapai generasi yang berkualitas,” tuturnya.

Ia mengutip pesan Ki Hajar Dewantara; “Pendidikan adalah suatu tuntutan di dalam hidup tumbuhnya anak-anak”. Menurutnya, pendidikan menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada peserta didik agar sebagai manusia dan anggota masyarakat dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan hidup yang setinggi-tingginya.

“Pendidikan adalah suatu proses dari penyesuaian lebih tinggi bagi makhluk yang telah berkembang secara fisik dan mental yang bebas dan sadar kepada Tuhan seperti termanifestasikan dalam alam sekitar, intelektual, emosional dan kemauan dari manusia,” paparnya. (*/wagadei)

Editor: Abeth A. You

 

banner 120x600

Respon (10)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *