Program Tanam Kopi “Jadi Idola”di Bursa Inovasi Desa Paniai

Bupati Paniai, Meki Nawipa ketika berada di stand pameran Kopi Paniai di aula Kantor Bupati Paniai baru-baru ini – Yamoye’AB/wagadei photo

Paniai, [WAGADAEI] – Stand Kopi Arabika Paniai tampak palingsibuk dipadati pengunjung dibanding lainnya.

216 Kepala Kampung dan Bamuskam, dari 23 Distrik di Kabupaten Paniai bergantian meminta penjelasan terkait budidaya Kopi Arabika, sambil curi-curi waktu minum kopi yang disediakan dua orang Barista setempat.

Di Bursa Inovasi Desa, stand Kopi Arabika Paniai yang dikelola olehYayasan Pembangunan Kesejahteraan Masyarakat (YAPKEMA) bisa dibilang cukuplengkap. Mulai dari contoh benih kopi hingga kopi panas siap minum yang diseduhdengan metode French Press dan V60.

Bupati Paniai, Meki Nawipa bersama Pj Sekda, Amatus Tatogo dan Kepala DPMK, Thomas Yeimo ikut singgah minum-minum kopi di situ.

Para kepala kampung mendapat penjelasan terkait proses budidaya kopi, mulai dari pembenihan, proses pasca panen hingga seduh di gelas.

“Kami ingin memberi gambaran tentang tahapan budidaya Kopi Arabika mulai dari bagaimana contoh benih yang memenuhi syarat, cara menanamnya hingga berbuah.

Setelah biji kopi merah mulai masuk ke proses pasca panen. Kami informasikan bahwa sejak buah kopi merah pun sudah bisa dijual,” ujar Hanok Herison Pigai, Direktur YAPKEMA kepada para kepala kampung dan Bamuskam dari Distrik Youtadi, di Aula Bupati Paniai, Selasa (11/12/2018).

Hanok Herison melanjutkan, sebagai pemimpin tingkat desa dengan wewenang mengelola Anggaran Pendapatan Belanja Kampung (APBK), dapat mengalokasikan anggaran untuk kegiatan usaha yang produktif.

“Ini tujuannya agar suatu saat masyarakat tidak hanya berharap pada transferan dana dari pemerintah namun ada pendapatan asli kampung yang dapat dikelola di tingkat kampung untuk memenuhi kebutuhan kampunh,” ujarnya.

Saat ditanya apakah dirinya optimis jika program prioritas kopi ini bisa berjalan, Hanok menuturkan banyak hal tergantung komitmen Bupati.

“Bagaimana komitmen Bupati mengawal rencana program itu, terutama dapat menggerakkan kepala-kepala kampung dan kepala OPD. Jika kami diberi tugas ikut mengawal, kami sudah siapkan strategi UPKBM (Unit Pengembangan Kopi Arabika Berbasis Masyarakat) sehingga kami bisa pastikan setiap tahapan kerja bisa berkualitas. Misalnya menyiapkan tenaga-tenaga pelatih di tingkat kampung dan UPKBM.

Terkait prioritas budidaya kopi untuk ekonomi rakyat, Bupati Meki Nawipa saat membuka acara Bursa Inovasi Desa mengatakan agar petani tidak khawatir terhadap pasar hasil produksi kopi.

Iki (anda/kamu) punya kopi jual di kantor saya, nanti saya beli. Biji kopi busuk-busuk juga saya beli. Tidak usah takut,” ujar Bupati disambut tepuk tangan dan teriakan Yuu oleh hadirin.

Bupati melanjutkan kalau satu bibit kopi itu dihargai 5 ribu, maka 20.000 bibit bisa mencapai 100 juta. “Petani kopi nanti bisa untung 100 juta,” kata dia.

“Bagaimana caranya budidaya kopi, yang nanti saya mau buat adalah, seperti YAPKEMA ini, bagaimana ada guru-guru kopi di kampung-kampung. Terus diajarkan ilmunya,” lanjut Bupati sambil menambahkan kampung yang tidak cocok tanam kopi bisa diganti dengan budidaya ikan dan sayur mayur.

Ditemui di sela-sela kegiatan, Isaias Kadepa, kepala kampung Tuguwai menanggapi acara bursa desa itu dengan antusias.

Kepala kampung yang sudah dipercaya menjabat 25 tahun itu mengatakan kampungnya akan memilih prioritas budidaya kopi dan pembangunan TK/PAUD.

“Beberapa nomor (program inovasi) itu bisa, tetapi tidak semua nomor karena harus disesuaikan dengan pelaksanaan di lapangan toh. Nanti keputusannya saya akan bicara sama masyarakat di kampung, anak-anak muda di kampung Tuguwai,” kata dia.

Isaias ingin program ekonomi yang dikerjakan itu sesuai kemampuan masyarakat. “Jadi kita kerjakan nanti yang masyarakat bisa, dan bantu hidupnya lebih baik untuk masa depan toh. Saya semangat toh, ini untuk bangunan kampung, demi masyarakat kami, demi anak-anak kami,” kata dia.

Dia tidak setuju cara bagi-bagi uang yang selama ini dilakukan lewat skema dana desa. “Yang cuma kasi uang ke kepala kampung itu tidak setuju. Masyarakat juga tidak mau bicara-bicara janji saja. Ini kopi ada dan sekolah anak-anak juga ada. Ini bagus. Kita mungkin akan pilih ini,” kaya Isaias. (*)

Editor: –

Sumber: tabloidjubi.com

151 kali dilihat, 2 kali dilihat hari ini

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

shares