Pj Bupati Deiyai: Jatah Beras ASN Mirip Makanan Ternak

Deiyai, [WAGADEI] – Penjabat (Pj)Bupati Kabupaten Deiyai, Papua, Drs. Fransiskus Xaverius Mote, M.Si menegaskan, jatah beras bagi Aparatur Sipil Negara (ASN) tidak layak dikonsumsi. Sebab, selain karung yang dibungkusi tidak memilik label informasi pada kemasan beras, juga isi berasnya sangat kotor dan penuh dengan debu, ibarat makanan ternak di kandang.

“Jatah beras ASN Deiyai akhir-akhir ini sangat kotor, ini mirip makanan ternak (binatang). Ini sangat tidak layak untuk dikonsumsi oleh orang,” kata Pj. Bupati Deiyai, Drs. F.X. Mote, M.Si kepada wagadei.com belum lama ini.

Mote bahkan mengancam akan segera cek ke kantor Bulog yang berlokasi di Nabire dalam waktu dekat. Jika terbukti pihak Bulog ataupun pihak terkait yang terbukti salah maka akan diundang untuk memintai keterangan.

“Ya, konsekuensinya mereka akan tanggung jawab sendiri setelah kami telusuri semua. Jangan main-main, ini Abdi Negara (ASN) punya bagian yang diberikan oleh Negara untuk mereka nikmati tapi kok yang didapatkan adalah sampahan, ini tidak boleh,” ungkapnya.

Mantan Kepala Biro Humas dan Protokoler Setda Provinsi Papua ini menjelaskan, Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 59 Tahun 2018 beras yang wajib dilabeli adalah beras dengan jenis medium, premium dan khusus.

Pj Bupati Deiyai, F.X. Mote saat mendengarkan ‘curhat’ dari Kepala Dinas Lingkungan Hidup Deiyai, Koyamaga Mote dan Sekretarisnya baru-baru ini – wagadei photo

Lanjutnya, beras yang diedarkan untuk ASN itu selain kotor juga warnanya berubah menjadi kehitam-hitaman juga penuh dengan debu.

“Jadi beras tak layak konsumsi ini saya sudah lakukan beberapa cara identifikasi yakni pengamatan secara indrawai. Sudah banyak yang patah, hancur dan banyak remah (menepung) menempel ditelapak tangan, menunjukkan bahwa beras telah disimpan dalam waktu yang lama dan sebaiknya tidak dikonsumsi,” bebernya.

Lebih lanjut dikatan, selanjutnya dengan indera perasa, beras tersebut sudah mulai terasa pahit maka beras tersebut sudah terindikasi tidak layak konsumsi.

“Bulog atau pengusaha dilarang memperdagangkan beras dalam kemasan yang tidak mencantumkan label informasi. Jika melanggar kewajiban tersebut maka beras ditarik dari peredaran,” jelasnya. (*/wagadei)

Editor: AB

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

shares