Benarkah Wartawan Papua Pemberani Ini Akan Berakhir Dari Profesi Jurnalis?

SIAPA yang tidak kenal wartawan asli Papua paling berani ‘mendobrak’ pintu raksasa melalui tulisan kritisnya. Tulisan-tulisannya jelas memihak masyarakat akar rumput–mereka yang teraniaya, diskriminasi bahkan tersingkirkan oleh kebijakan pemerintah. Dialaha Abeth You. Sehari-hari ia kerja sebagai jurnalis di Koran Jubi dan tabloidjubi.com sejak akhir tahun 2014, setelah sebelumnya kerja di dua media yakni majalahselangkah.com mulai tahun 2011 hingga 2015 dan Koran Harian Papua Pos yang berbasis di Kota Jayapura.

Abeth You, pemilik nama baptis Abraham You dianggap wartawan pemberani dari Papua karena berbagai hal, di antaranya dia berani sekali ‘mendobrak’ pintu raksasa melalui tulisan kritisnya. Semua tulisan itu semua memihak kepada rakyat Papua yang jelata di atas tanahnya sendiri.

Dengan tulisan-tulisan kritis itu, kadang dianiya oleh pihak penguasa daerah, seperti pemerintah, pengusaha dan aparat keamanan. Bagaimana tidak, kasus Paniai Berdarah yang terjadi tanggal 8 Desember 2014 lalu yang menewaskan empat pelajar SMA di lapangan Karel Gobay itu ia menulis sehingga mendunia. Saat itu kebetulan dirinya berada di Enarotali, Paniai dalam melakukan perjalanan antar keluarganya dari Jayapura. Saat itu ia masih reporter di majalahselangkah.com dan baru gabung di Jubi.

Abeth sesaat menulis berita di media center room MK RI pada sidang saksi Pilkada Paniai 2018

Atas pemberitaan yang dituliskan, membuat para penguasa menjadi pusing. Sehingga dalam waktu yang sangat singkat, para pimpinan di negara Indonesia tiba di Paniai, mulai dari petinggi di ringkat Provinsi Papua bahkan orang-orang Jakarta. Hingga pada saat itu, ia dibatasi mewawancarai ‘orang-orang’ itu karena akan menanyakan sesuatu yang lebih tajam.

Sampai saat ini, mantan wakil ketua Himpunan Mahasiwa Jurusan (HMJ) Arsitektur di USTJ Jayapura ini masih konsisten dengan kematian empat siswa yang masih belum dipertanggungjawabkan secara prosefesional oleh Negara, walaupun telah diakui bahwa pelakunya adalah aparat kemanan yakni TNI dan Polri.

Terkait kasus ini, mantan Komisioner Komnas HAM RI, Natalius Pigai pernah mengatakan bahwa semua tulisannya Abeth You selalu membuat para petinggi di Jakarta kena jantungan.  “Kita di Jakarta sering jantungan karena berita kritis yang ditulis adikku Abeth,” kata Pigai dalam sebuah kesempatan.

Menulis berita tak harus di kantor, di mana dan kapan saja bisa tulis

Tidak hanya itu, awal November 2016 lalu, kontributor satuharapan.com ini juga membongkar rahasia dibalik matinya operasi Taman Anggrek dan Taman Burung di Kabupaten Biak Numfor.  Lantaran tidak terawat, semua satwa yang ada di dalam taman itu tidak terawat.

Tak hanya itu, hampir tiap saat selalu menyuarakan kaun tetindas di atas tanah Papua yang penuh dengan susu dan madu ini. Karyanya telah meluas, ia banyak menyuarakan kebenaran dalam menyajikan berita. Ia memiliki kewajiban menyuarakan orang-orang yang tak bersuara atau mereka yang suaranya jarang didengar. Suara rakyat (petani atau nelayan) apalagi di pulau-pulau dan perkampungan terpencil, jarang sekali terdengar. Itu bukti hasil karya laki-laki Papua asli suku Mee. Ia kerak mendapatkan intimidasi dari pihak penguasa, bahkan taruhan nyawa demi rakyat jelata.

Tragedi Deiyai Berdarah yang terjadi di kali Oneibo pada 5 Agustus 2017 juga mendunia lantaran semua beritanya disiarkan secara berkala di Jubi. Kasusu ini benar-benar Abeth hantarkan hingga meja Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Pada sidang tahunan 2017, PBB pernah membahas kasus itu juga.

Analis dan peneliti

Anak muda berbakat dan merakyat. Bersuara melalui pena dan lidah-lidah emasnya. Selama ini, Abeth You memiliki misi bahwa tak cukup modal bisa menulis, jurnalis juga harus jadi analis. Jadi jurnalis itu tak cukup hanya berbekal bisa menulis. Menjadi jurnalis juga berarti menjadi analis dan peneliti.

Kehadiran Abeth You dalam dunia jurnalis, ia banyak menuliskan fakta dan menceritakan peristiwa yang bertujuan untuk memberikan informasi, mengedukasi, hingga memberikan hiburan kepada khalayak umum.

Satu hal yang ia miliki adalah Abeth harus suka dan mengetahui apa yang harus ditulis. Sehingga ia selalu mencerahkan masyarakat dan cerdas asah berbagai skill .

Abeth pernah menjadi peserta terbaik pada kegiatan Jurnalis Invesitasi berbasi Open Data di Jakarta dan mendapatkan fellouw ship.

Pindah jalur

Walaupun demikian, waktu berkata lain. Ia dikabarkan segera pindah jalur, dari jurnalis beralih ke politik. Ia telah terdaftar sebagai calon tetap di Partai Golongan Karya (Golkar) di nomor urut empat pada daerah pemilihan (dapil ) I Kabupaten Paniai.

Abeth saat meliput peristiwa Deiyai Berdarah

Dalam sebuah perjumpaan dengan media ini, ia memaparkan banyak alasan mengapa mantan ketua panitia turnamen IPPMMEE Cup tahun 2012 ini beralih ke dunia politik.

Salah satunya adalah sangat sedih melihat keberadaan rakyatnya tidak pernah berubah. Seperti ketersediaan pasar layak di Enarotali. Mama-mama ini selalu saja menjual di atas tanah alasakan kain atau plastic, itu bukti wakil rakyat di daerah itu tidak mampu. Dan masih banyak hal lagi yang diceritakan.

Ia memiliki visi, membawa rakyat mee kembali ke akar budayanya dan adatnya demi kesejahteraan bersama, serta misi, turun bersama rakyat mencapai hidup yang berdaulat.

Siapakah penggantinya?

Setiap orang bisa menjadi penulis. Namun tidak semuanya mampu meramu tulisan dengan lihai sehingga bisa dibaca dan dicerna dengan baik oleh pembaca,

Abeth You bersama seluruh kru Jubi dalam sebuah kesempatan

Menulis bukan hanya menelurkan karya fiksi seperti novel, cerita pendek (cerpen), atau puisi. Menulis berita juga pekerjaan mengolah kata. Bedanya, fakta adalah rohnya.

Abeth mengaku, masih ada seniornya, Victor Mambor, Dominggus Mampioper, Benny Mawel, Angela Flassy, Yuliana Lantipo, Arjuna Paddema, juga telah menyiapkan para penggantinya akan menjadi wartawan. Caranya mendidik mereka dan sedang tahapan belajar di media lokal. Sementara para pengikutnya masih ada nama Agus Pabika, Hengki Yeimo, David Sobolim, Yance Wenda, Alexander Gobai, Arnold Belau, Stevanus Yogi dan beberapa lainnya yang tak ingin sebutkan nama.

Paham seluk-beluk birokrasi perpolitikan 

Salah satu keahlian jurnalis yang jarang dimiliki oleh profesi lainnya selain politikus, yaitu memahami birokrasi perpolitikan di Indonesia juga di Papua dan daerah. Dengan tanda pengenal pers, ia mudah untuk keluar masuk kantor DPR, kantor Bupati, Walikota, Gubernur dan lainnya.

***

Kualitas Abeth

Sebagai seorang jurnalis, ia tahu semua fakta sebelum berita itu ditulis. Karena ia tahu fakta-fakta tersebut sebelum masyarakat luas, otomatis ia menjadi lebih kritis dalam mengambil keputusan. Ia  tidak sekadar meng-judge kehidupan A ataupun B. Namun kamu ia alasan dibelakangnya dan baru mengambil tindakan yang benar.

Abeth dan rekan-rekannya mewawancarai Uskup Jayapura

Ia punya hal kreatif dalam dirinya. Karena menumbuhkan ide kreatif adalah kewajiban seorang jurnalis, seperti dalam bentuk tulisan di media, membawa berita agar dapat perhatian besar dari masyarakat bahkan memberi foto terbaik dalam liputan berita.

Ia sebagai orang yang super tangguh. Karena ia selalu siap dengan liputan berita yang kapan saja terjadi, bahkan ia harus menyampaikan fakta seaktual mungkin kepada masyarakat. Ia telah banyak mencetak sebuah karya semasa hidupnya. Ini akan menjadi karya yang mengukir namanya. Karya tulis merupakan karya terbesar juga dalam sejarah kehidupan, so berbahagialah kamu yang berprofesi sebagai jurnalis dan akan segera beralih ke dunia politik. Entahlah. (*/wagadei)

 

Editor: Admin

 

Share

4 tanggapan untuk “Benarkah Wartawan Papua Pemberani Ini Akan Berakhir Dari Profesi Jurnalis?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

shares