Bahasa Ibu Segera Diselamatkan

Oleh: Florentinus Tebai

BERBICARA soal bahasa ibu, berarti berbicara soal bahasa daerah. Bahasa daerah dari  setiap daerah. Sebagai bahasa daerah, bahasa ibu merupakan salah satu sarana yang paling penting untuk melakukan interaksi antara satu dengan sesama yang lain di dalam satu daerah. Ia menjadi sarana komunikasi yang intim atau akrab antara satu dengan lainnya pada masyarakat dari daerah tersebut. Karena itu, kebanyakan masyarakat memandang bahasa ibu sebagai bahasa yang efektif  untuk digunakan sebagai bahasa pergaulannya dalam melakukan aktivitasnya.

Kita sebagai pemilikik bahasa ibu mestinya tahu bahwa bahasa ibu merupakan bagian dari budaya. Sementara budaya sendiri, Taylor (1871), menjelaskan, “Budaya sebagai keseluruhan bidang yang meliputi pengetahuan, kepercayaan, seni, moral, adat, dan kemampuan-kemampuan lain yang dipeoleh manusia sebagai anggota masyarakat”. Artinya, bahasa ibu merupakan salah satu elemen penting yang dimiliki oleh manusia dan memiliki peranan, fungsi dan berada dalam kehidupannya karena menjadi salah satu unsur budaya. Karena bahasa ibu sebagai salah satu bagian dari budaya dapat memungkinkan manusia dapat berperan dengan baik.

Berkaitan dengan itu, Bahasa ibu memiliki peranan penting dalam melangsungkan seluruh kehidupan sosial dan budaya pada era globalisasi. Akan tetapi,  di era globalisasi ini oleh karena pengaruh perkembangan arus modernisasi yang tinggi, bahasa ibu sebagai identitas dan jati diri tidak menjanjikan buat keberadaanya. Artinya, dapat dikatakan bahwa bahasa ibu telah menjadi korban atas di dalam seluruh dinamika kehidupan sosial dan budaya modern.

Satu contoh yang berhubungan dengan itu ialah hilangnya bahasa Enggros Tobati, Jayapura, Papua. Akibat dari hilangnya bahasa tersebut ialah tidak digunakannya bahasa tersebut. Fakta lain yang berkaitan dengan hilangnya bahasa ibu, ialah kebanyakan dari kita yang memiliki budaya tidak membiasakan diri untuk menggunakan bahasa ibu. Artinya, terkadang kita sering menganggap diri manusia modern, sehingga takut untuk menggunakan bahasa ibu.

Masyarakat asli Ohotya

Ini beberapa percakapan yang diperbincangkan oleh anak-anak pada zaman ini. “Buat apa pake bahasa daerah, ini kan zaman naw too, jadi tra perlu pake bahasa daerah, apalagi belajar. buat apa susah-susah, ini zaman naw bukan zaman batu lagi, jadi tra perlu dengan bahasa daerah itu.”

Atau  percakapan lain yang diperbincangkan juga seperti ini, “Sa su lama tinggal dan besar di kota, jadi z tra tau bahasa daerah. Z mau belajar juga tapi z malas, z malu pake bahasa daerah, apa lagi belajar untuk apa, jadi tra usah saja. Yang penting bahagia saja denga apa yang ada.”

Terkait dengan itu, Saya pikir ini merupakan salah satu persoalan mendasar yang mengancam keberadaan diri kita sebagai pribadi dan generasi muda penerus bangsa pada masa kini, yang memiliki identitas dan jati diri. Kita jangan menganggap persoalan tersebut merupakan persoalan yang sederhana, sehingga kita membiarkan bahasa ibu hilang di dalam seluruh dinamika kehidupan sosial dan budaya modern. Kita sebagai pribadi yang memilki bahasa ibu mesti meyadari akan hal itu, karena bahasa ibu merupakan bagian terkecil yang mengandung unsur nilai-nilai kehidupan, yakni identitas dan jati diri.

Sebagai pribadi yang memiliki bahasa ibu jangan diam saja ketika kita tidak dapat menggunakan bahasa ibu. Jangan juga merasa modern dengan menganggap bahasa ibu tidak perlu lagi.  Karena di saat itulah, kita tidak menyadarinya dengan baik bahwasannya kita sedang kehilangan identitas dan jati diri.

Untuk pelestariannya ke depan, Undang Otonomi Khusus (Otsus) Papua pada bab XVI, Pasal 58 dijelaskan bahwa bahasa daerah dapat digunakan sebagai bahasa pengantar di jenjang pendidikan dasar sesuai kebutuhan. Artinya, posisi bahasa daerah sebagai identitas dan jati diri mendapat perhatian yang khusus dalam Otsus Papua.

Pertama, tentu kita sebagai pribadi yang merupakan bagian dari budaya mesti menghargainya dengan cara mengenal, mempelajari dan menghayati, seperti apa bahasa ibu kita. Karena bahasa ibu, ialah identitas dan jati diri kita. Ingat identitas dan jati diri sebagai pribadi yang berbudaya mesti jelas. Kita mesti menyadari akan hal itu dengan cara mempraktekkannya di dalam seluruh kehidupan kita kapan dan di mana saja kita berada. Anak bangsa harus membuat suatu perubahan, yakni menuju kepada perubahan masa depan yang lebih baik dengan berlandaskan pada budaya.

Berhubungan dengan itu, sebagai langkah selanjutnya, pihak Pemerintah dari Gubernur sebagai pimpinan daerah  hingga aparat kampung perlu mengambil bagian dalam usaha menyelamatan bahasa daerah. Misalnya, pemerintah dengan membuat kegiatan-kegiatan berbasis budaya, supaya budaya ditingkatkan, dimana disana bahasa daerah dituturkan sebagai sarana pelestarian. Selain dari itu, kepada lembaga-lembaga adat juga ikut melibatkan diri dalam usaha menyelamatkan bahasa ibu. Misalnya, memproduksi kajian-kajian budaya setempat dalam bentuk buku bacaan. Dan yang terakhir kepada dinas pendidikan provinsi dan kabupaten/kota,  dapat menlahirkan sebuah system pendidikan yang berkonteks Papua, dimana di dalamnya, tidak hanya bahsa ibu, tetapi semua elemen budaya sebagai khasanah kekayaan lokal suku-suku bangsa Papua lestari dan terus diangkat.

Para pemangku jabatan dalam dinas pendidikan bersama pemerintah, lembaga adat dan pihak swasta penyelenggara pendidikan di Papua dapat saja menerapkan pendidikan kontekstual Papua itu, dimana bahasa daerah dan berbagai elemen budaya lainnya dituturkan dan dipelajari dalam lingkungan sekolah di berbagai jenjang. Dengan dana Otsus dan ruang di dalam regulasi Otsus yang ada, mereka sejujurnya mampu dan bisa. (*)

 

 

Penulis adalah Mahasiswa Sekolah Tinggi Filsafat dan Teologi “STFT” Fajar Timur Abepura, Papua.

 

201 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

shares