Yuwo, Pesta Adat Babi Untuk Pertahankan Nilai Budaya Dan Jaga Kekerabatan

Oleh : Paulus Tekege

Yuwoo merupakan acara pesta adat potong babi yang masih eksis di wilayah Meuwodide (negeri suku Mee, Paniai). Acara Yuwo ini dahulu kala bermuladari cara burung Cenderawasih mengumpulkan rekanannya juga burung jenis lainnya untuk menari. Burungkuning ini memiliki kunggulan tersendiri, selain punya warna buluhnya yang indah dan cantik juga ia mampu menirukan suara manusia, juga suara lainnya bahkan pandai menari di atas pohonan.  Bahwa ketika ia mau melakukan tarian, burung surga (sebutan dari orang Papua) ini akan panggil mengumpulkan burung-burung lain,  setelahnya mereka mulai lembur, saat dia bertumbuh tanah dari sarang burung-burung yang lain mengelilingi saran itu. Burung itu dia membuat sarang itu di tanah.

Pengertian Yuwo

Yuwoo terdiri dari dua kata yakni Yuu dan Woo. Yuu memiliki arti harafia “Yuu” merupakan seni suarayang digunakan ketika melakukan tarian( waita) atau kegiatan lain. Sedangkan “Woo” menunjukan ungkapan suatau keagunan atas pelaksanaan suatau kegiatan. [1]

budaya pesta Yuwo adalah sebuah hal yang perlu dilakukan oleh sukuMee, berdasarakan keputusan kepala pesta adat atau dalam bahasa daerah  disebut Yuwoupuwee.  Yuwoupuwe itu terdiri dari dua kata Yuwoo dan Ipuwe, yaitu Yuwoo adalah pesta adat Ipuwe yang berarti kepunyaan/milik. Dalam sebuah pesta mereka mempunya seorang jadi pemimpin yuwo tapi itu tidak sembarang dipilih yang menjadi pemimpin pesta adat itu orang kaya harta/ banyak babi.

Yuwo atau pesta adat  ada  dua macam yaitu “Yowoo” dan “Dagibeu Yuwoo”. Yuwo yang berarti dengan membuat rumah tarian adat didalamnya  ada sebuah pemimpin Yuwo yang disebut Yuwoupuwe dan itu hanya orang katolik saja yang makan babi itu. Sedangkan Dagibeu Yuwoo adalah sebuah pesta adat yang tanpa pemimpin pesta tersebut itu orang kristen juga bisa makan babi itu. Untuk agama katolik makan babi dari pesta dua-duanya .

Yuwoo

Yuwoo yang berarti dalamnya ada pemimpin disebut Yuwoupuwe dan rumah tarian adat disebut Emaa

Pesta Yuwoo memiliki makna dalam kehidupan strata sosial bagi kehidupan manusia mee, di pelataran sepanjang gunung Mayland, Makataka, Kegata. Pelaksana pesta babi disebut yuwoo, berawal ketika seorang tonawi (orang berada, kaya) pada suatu wilaa atau kampung. Dahulu yang menjadi tuan pesta Yuwoo, adalah seorang yang memilki status osial dalam tatnan kehidupan manusia dimana mereka berada.[1]

Dagibeu yowoo

Dagibeu Yuwoo: Dilaksanakan dalam suasana kehidupan masyarakat yang kondusif. Masyarakat disekitarnya hidup dalam kondisi bahagia; hampir semua memiliki ternak babi; mege (alat tukar/uang) dan sebagainya; agar dapat mempertahankan suasana hidup tersebut;  bahkan memohon kepada Ugatamee (Tuhan) agar harta benda serta kebahagiaan hidup yang mereka miliki dapat dilimpahkan lebih dari yang ada, serta memohon Ugatamee agar dapat memberikan keturunan (anak).

Digibeu Yuwoo dilaksanakan sebagai witogai kamuu/imouwoo goodai (upacara pencucian) sebagai ucapan syukur agar dapat mempertahankan sekaligus memohon kepada Ugatamee supaya diberikan berkat yang berlimpah.

Onage Motii

Onage motii: Onage diambil ketika masyarakat mengalami musibah. Ketika masyarakat hidup dalam penderitaan, seperti kelaparan, kematian, kekeringan dan sebagainya. Onage diambil untuk memutuskan mata rantai musibah tersebut sekaligus memohon kepada ugatamee agar dapat memberikan kebahagiaan dalam kehidupan mereka.

Onage sebagai symbol penghalang atau pembatas musibah sekaligus jembatan atau jalan menaikkan harapan dan permohonan dari masyarakat disekitar Yuwoo tersebut.

Dengan demikian, Dagibeu Yuwoo dilaksanakan ketika masyarakat disuatu kampung sedang hidup dalam aman dan bahagia serta memiliki harta benda. Sedangkan Onage Motii dalam kondisi hidup masyarakat yang terkena musibah agar dapat memutuskan musibah sekaligus memohon kebahagiaan hidup masyarak

Tujuan Yuwoo

Warga saat angkat babi pada pesta Yuwo di Epouto 2018 – wagadei poto

Pertama, menanamkan nilai-nilai budaya pada generasi berikut agar tidaka hilang / lintur pada generasi berikutnya. Kedua, menggali dan mencari kedalam hubungan kerabat yang hilang antara sesamanya dan ketiga mempersatukan antara beda marga, daerah, dan wilaya, dan lain-lain.

Manfaat Yuwoo

Pertama, masyrakat saling mengenal dengan masyarakt yang datang dari jauh diantara bedah marga, daerah, dan wilayah dan kedua hubungan yang suda hilang akan suda menjadi tahu.

Proses

Membuat rumah adat tarian (Yibuu Emaa)

Di mana mereka melaksanakan pestaYuwo harus ada Yibu Emaawa atau rumah untuk tarian adat tumbuh tanah. Dalam proses pembuatan rumah, pemimpin yowo akan mengajak orang tertentu yang bisa membuat alat/pemakain rumah seperti papan (yaga) pagar lapisan papan ( tapa edaa) daun jerami ( yage) sebagai gantian daun sen, pengalas tanah ( katagai), rotan (edu) pengganti paku untuk mengikat yaga dll, perauh  (potu koma) ini untuk tanam dibawah antara tanah dan pengalas (age) agar saat orang bertumuh tanah akan bunyi kuat maka orang berpikir bahwa tarian sudah mulai dan warga-warga setempat  datang ke rumah adat (emaa). Setelah semua ini sudah buat semua perlengkapan akan di kumpul di tempat yang mereka buat rumah tersebut. Setelah di kumpul semua itu mereka mulai membuat, sesudah membuat rumah itu, hari pertama itu mereka undang semua masyarakat setempat untuk mencoba mematahkan kayu yang mengalas tumbuh tanah dalam bahasa daerah disebut (kabu tuwai). Setelah itu, selanjutnya mereka tetapkan dalam satu minggu satu kali sampai pesta (yuwoo) itu dilksanakan.

Persiapan

Sebelum satu tahun untuk melaksanakan yuwoo masyaraka membuat beden. laki-laki membuat pagar beden dan perempuan bikin beden utuk persiapan pada pesta tersebut. Masyrakat suda tahu bahwa nanti bulan ini nanti pas dan tidak sesuai dengan iklim mereka. Biasanya ada yang 4 bulan palig lama 4 setegah bulan untuk menggali ubi.

Di samping itu masyrakat piara babi 4-10 ekor terutama pemilik yuwoo (yowoupuwe) itu paling minimal 10-15. Babi itu sebelum 5 tahun mereka mulai piara hingga sampai pelaksanaan pesta adat.

Hingga semua ini sebelum tiga/dua hari, di kupulkan dalam kem / dalam bahasa daerah disebut (kewita) masing-masing, sehingga nanti yang ubi masak di kewita sama kepala babi pada malam itu lalu dibagi-bagi ke orang-orang yang datang dalam kem atau (kewita) itu sambil mencaritau hubungan telah hilang.

Pemutusan pelaksanaan

Untuk menuju pada acara puncak, tidaklah semudah. Namun melaluiproses panjang,  paling tidak Yuwoupuwee dan rekan-rekannyamenentukan dalam empat hingga lima  lima tahun sekali, setelah sesudahnya pergantian perdaerah.  Atas pergantian yuwonya tidak sembarang, itu diganti sesuda yuwo yang satu daerah selesai daerah yang lain akan datang meminta sebuah kayu yang ditentukan dalam bahasa daerah disebut ( onage) setelah ambil kayu itu bawa dan taman ditempat yang mereka membuat yibuuemaa atau rumah tarian adat. Yang mengambil onage adalah disebut pemimpin pesta adat (Yuwoupuwe)

Setelah tahun dan tanggal suda diputuskan dalam 4/5 tahun hanya laki-laki yang dinyanyikan nyanyian adat (Ugaa) , tahun yang terakhir yang kelima itu mereka putuskan tanggal, setelah tanggal diputuskan sebelum satu minggu untuk melaksanakan yuwoo, itu perempuan tua-tua yang dinyanyikan Ugaa.  Hanya mereka yang  tahu.

Pelaksanaan Yuwoo

Hari pelaksaan Yuwoo semua ke dikeluarkaan babi yang ikat dalam Kewita (camp) itu lalu mereka tunggu pemimpin pesta membunuh babi terdahulu. Setelah pemimpin yuwo dibunuh babi maka babi yang semua kem juga bunuh masing lalu bakar buluh dan potong menta-menta dan mereka jual sesuai harga yang ditetapkan oleh pemimpin yuwoo / yuwoupuwe. Setelah mereka jual uang-uang yang mereka ambil dibawah sendiri-sendiri bukan kasih pemimpin pesta adat atau yuwouupuwe.

Malamnya mereka yang jauh tidak bisa pulang langsung, tetapi mereka tidur di Kewita. Bermalam di Kewita merupakan wajib hukumnya bagi para kerabat dari pemilik Yuwo atau pemilik Kewita. Malam ini merupakan ajang pemersatu hubungan kekerabatan dengan cara bakar batu bersama kepala babi dan usus babi serta daging lainnya. (Penulis adalah mahasiswa STPMD “APMD” Yogyakarta)

Sumber: http://tabloidjubi.com/artikel-18417-serunya-pesta-yuwo-di-epouto-babi-dansa-dan-cari-jodoh.html – abeth you

Share

4 thoughts on “Yuwo, Pesta Adat Babi Untuk Pertahankan Nilai Budaya Dan Jaga Kekerabatan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

shares