Mahasiswa Uncen masuk ruang kuliah pakai Koteka, ini tanggapan dosen

Devio Bastan Tekege, saat mengikuti mata kuliah di ruang kuliahnya, Senin, (28/05/2018) – Ist

Jayapura, (WAGADEI) – Sejarah mencatat, hari ini, Senin, (28/5/2018), seorang mahasiswa Universitas Cenderawaih (Uncen) Jayapura, Papua bernama Devio Bastian Tekege masuk di ruang kuliahnya  dengan mengenakan Koteka (pakaian adat orang pengunungan Papua, red).

Mahasiswa semester IV pada jurusan Teknik Elektro, pada Fakultas Teknik ini memiliki alasan tersendiri atas mengenakan pakaian adat itu, hingga konsentrasi belajar dalam menjadi semangat.

“Saya dari tempat tinggalku gunakan motor ke kampus pakai Koteka. Tidak ada yang hal istimewah, ini biasa saja. Alasannya hanya satu, kalau pakai pakaian adat lalu belajar itu cepat sekali tangkat materi yang diajarkan oleh dosen,” kata Devio Bastian Tekege kepada wagadei.com di Waena, Kota Jayapura.

Ia menjelaskan, masuk ke ruang kuliah pukul 08.30 WP sehingga begitu masuk dalam ruangan ia menjadi pusat perhatian dari rekan-rekannya juga dosen yang hendak mengajari mereka.

Rekan-rekannya menoleh tersenyum di ruang kuliah – Ist

“Teman-teman Tanya, ini mengapa harus pakai pakaian adat? Saya hanya jawab dengan santai bahwa ini caraku untuk melestarikan budaya kami orang Papua. Jadi, Koteka ini bisa dipakai kapan dan di mana saja,” ungkapnya.

Ia bahkan ditawarkan foto bersama dengan rekan-rekannya juga dengan dosen yang mengajari itu. Namun ditolak karena berbagai pertimbangan yang muncul saat itu.

Marinus Yaung, seorang dosen Uncen mengakui, kagum atas peristiwa itu. Sebab, baginya selama ia kuliah di Yogykarta bahkan sejak menjadi dosen di kmpus kuning ini tak pernah melihat mahasiswa pakai pakaian adat masuk kampus.

“Ini hal baru. Dan sangat terkejut. Kalau mahasiswa masuk kampus pakai pakaian adat karena ada acara tertentu itu biasa. Tapi, ini masuk ke ruang kelas saat meneriam mata kuliah dari dosen,” ujar Marinus Yaung.

Menurut Yaung, cara tersebut menyadarkan kepada generasi muda orang asli Papua (OAP) sekali-kali jangan lupa identitas diri untuk melestarikan budaya tanpa ragu dan bimbang.

“Semoga ini awal yang baik. Saya harap rekan-rekan dosen jangan marah, sebab kalau sampai marah berarti ini merendahkan martabat orang asli Papua, bangsa Melanesia,” imbuhnya. (YA/wagadei)

banner 120x600

Respon (18)

  1. I got tһis website from my friend who shared ѡith me on the topic of this web ѕite and at thе moment this time I am vіsiting
    this wеb site and reading very informative articles or revieѡs here.

Tinggalkan Balasan ke LesGrooni Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *