Pembela HAM: Ucapan selamat Natal 2017 dan tahun baru 2018 tak ada arti di tanah Papua

Jayapura, (WAGADEI) – Pembela Hak Azasi Manusia (HAM) Pegunungan Tengah Papua, Theo Hesegem mengatakan, hampir tiap lepas dan sambut tahun baru masing-masing orang yang ada di belahan dunia, dan masyarakat Indonesia termasuk TNI dan Polri dengan beramai-ramai mengucapkan selamat Natal 2017 dan selamat tahun baru 2018.

“Ucapan itu sebenarnya diungkapkan dari lubuk hati yang sangat mendalam. Dan punya makna dan arti yang cukup luas dan bukan hanya sekedar diungkapkan,” ujar Theo Hesegem melalui pesan WhasAppnya kepada media ini.

Tetapi, menurutnya, orang-orang tertentu termasuk oknum aparat TNI dan Polri menganggap ucapan itu hal yang biasa-biasa saja, lalu membunuh dan menghilangkan nyawa manusia.

“Kita semua perlu ketahui setiap manusia selalu dikawal oleh Tuhan Allah, karena manusia diciptakan oleh dia. Oleh karena itu, Tuhan tidak pernah membiarkan kemanapun kita pergi,” katanya.

Dikatakan, Tuhan tidak pernah membiarkan setiap manusia, ia selalu melihat dan mendengar suara setiap orang yang selalu menyebutkan namanya.

Lanjut dia, Tuhan Allah pencipta manusia sedang melihat dan matanya sedang tertuju kepada orang yang sedang melakukan kejahatan membunuh dan menghilangkan nyawa di tanah ini.

“Perbuatan orang-orang jahat dan orang-orang fasik selalu dilihat oleh Tuhan sendiri,” ucapnya.

Ia menegaskan, Tuhan Allah sangat sedih melihat ciptaanya diperlakukan dengan sangat tidak manusiawi di tanah ini. Menurut dia, manusia tidak punya hak mencabut atau menghilangkan nyawa setiap orang

“Kalau anda bermain-main dengan ciptaannya, maka anda akan mengutuk dirinya sendiri,” ujarnya.

Tokoh awam Katolik di Paniai, Marko Pekei menegaskan Natal yang dirayakan oleh umat Kristen adalah merayakan hari kelahiran sang Juruselamat, Yesus Kristus yang menebus dosa seluruh umat manusia di muka bumi ini.

“Sampaikan ucapan damai Natal melalui baliho tetapi masih saja melakukan penganiayaan, penyiksaan, pembunuhan dan sebagainya patut dipertanyakan. Yang jelasnya umat nasrani tidak butuh ucapan tapi tindakan nyata,” katanya.

Ditambahkan, dalam hukum agama Kristen pun, umat Kristen tidak pernah dianjurkan untuk mengharapkan ucapan selamat ketika merayakan Natal dan tahun baru. (*)

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

shares