Kasus Yogyakarta, umat beragama di Tanah Papua tidak boleh terprovokasi

Oleh: Neles Tebay

KAMI menghimbau kepada semua umat beragamadi seluruh Tanah Papua untuk
tidak terpancing atau terprovokasi oleh Peristiwa penyeranganterhadap
Gereja St Lidwina di KabupatenSleman, Daerah istimewa Jogyakarta,
11/2-2018. Peristiwa penyerangan inimerupakan tindakan yang mesti
dihindari oleh semua umat bergama di BumiCenderawasih. Orang Papua
biasa mengatakan, “masalah di laut, jangan dibawa kedarat”. Demikian
juga, “masalah di Jogyakarta, jangan dibawa ke tanah Papua”.

Orang Papua, entah apapunagamanya, tidak akan tergerak untuk
mengganggu, apalagi menyerang, tempatibadat dari agama lain. Karena,
dalam kebudayaan Papua, orang Papua diajarkanuntuk tidak mengganggu
tempat sakral atau keramat. Berpedomankan pada ajaranadat ini, orang
Papua memandang semua tempat ibadah dari agama apa pun sebagai
tempatsakral atau tempat keramat. “Makanya, jangankan membakar.
Memetik sehelai daundi halaman tempat ibadah saja orang Papua tidak
akan lakukan”.

Orang Papua dapat saja marahterhadap orang lain yang adalah pemeluk
agama lain. Tetapi kemarahan ini tidakakan mendorong orang Papua untuk
menyerang atau membakar tempat ibadah dariorang yang dimarahinya.
Didasarkan pada ajaran adat ini, orang Papua selama initidak pernah
mengganggu, apalagi membakar, tempat ibadah dari agama manapun ditanah
Papua. Orang Papua sangat menghormati tempat ibadah dari semuaagama.

Kami, orang Papua, dengan hatiterbuka menerima semua orang yang datang
dari luar Papua. Kami tidak melalukanseleksi atas dasar agama dan
kepercayaan. Tetapi semua orang yang datang dariluar mesti sadari
bahwa orang Papua mempunyai tradisi kebudayaan. Dan salahsatu ajaran
budaya orang Papua adalah menghormati tempat sakral/keramat dari
semuaagama. Oleh sebab itu, kami mendorong, semua orang yang dari luar
Papua danhidup di tanah Papua untuk menghargai ajaran adat Papua ini.
Ajaran adat inimerupakan suatu kearifal lokal. Orang yang datang dari
luar tidak bolehmemprovokasi orang Papua dan semua orang lain yang
sudah hidup damai di TanahPapua untuk melakukan tindakan kekerasan
seperti menyerang tokoh agama atautempat idabah.

Semua orang yang hidup di Papua jugaperlu mewaspadai masuknya
orang-orang yang mempunyai paham radikal atasagamanya. Karena mereka
yang punya paham radikalisme ini mempunyai potensiuntuk menciptakan
konflik kekerasan atas dasar keyakinan agamanya. Mereka yangpunya
paham radikalisme tidak boleh diberi ruang dan kebebasan
untukmenyebarkan paham dan ajaran radikalismenya di Papua yang
dijuluki sebagaitanah Damai. Perlu ada tindakan pencegahan dari awal
agar mereka tidakmenularkan virus radikalisme pada orang lain di tanah
Papua. Apabila polisisudah mendeteksi kehadiran orang-orang yang
mempunyai paham radikalisme, perludiambil tindakan sesegera mungkin.
Sebab, apabila mereka dibiarkan berkembang,maka Polisi akan dianggap
melindungi orang-orang yang punya paham radikalisme danmendukung
ajaran radikalismenya. Kami tidak ingin kasus penyerangan di Gerejadi
Jogyakarta terjadi juga di tanah Papua, maka polisi perlu mengambil
tindakansecepatnya apabila dideteksi hadirnya tokoh-tokoh radikal yang
sangatmembahayakan kerukunan masyarakat dan integrasi bangsa
Indonesia.

*). Penulis adalah Ketua STFT Fajar Timur Abepura, Koordinator Jaringan Damai Papua (JDP) dan pemenang pengharagaan Tji Hak Soon untukkeadilan dari seul,
Korea Selatan, 2013 tinggal di Port Numbay.

Share

FameThemes

This user is created while installing demo content. You should delete or modify this user’s information now.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

shares